Pengelolaan TPS Dusun Bawuk terkendala kuota kubikasi sampah

id pengelolaan sampah

Pengelolaan TPS Dusun Bawuk terkendala kuota kubikasi sampah

Danang Wicaksana Sulistya (DWS) saat mendatangi TPS GIAAAAAT di Dusun Bawuk, Minomartani, Ngaglik, Sleman (HO-Istimewa)

Yogyakarta (ANTARA) - Pengelolaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) GIAAAAAT di Dusun Bawuk, Minomartani, Ngaglik, Sleman terkendala oleh kuota kubikasi bulanan yang harus disetorkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.

"Kami kesulitan untuk berkembang karena jumlah sampah yang kami kelola sangat sedikit karena kami harus menyetor ke TPA Piyungan setiap bulannya," kata Pengelola TPS GIAAAAAT Danang Arif.

Hal itu disampaikan Danang kepada calon Bupati Sleman nomor urut 1 Danang Wicaksana Sulistya (DWS) saat mendatangi TPS GIAAAAAT di Dusun Bawuk, Minomartani, Ngaglik, Sleman, Kamis (26/11).

Danang mengatakan sampah yang masuk ke TPS-nya akan dipilah berdasarkan jenisnya. Jenis sampah seperti botol dan gelas plastik dikumpulkan kemudian dijual ke pengepul, sedangkan jenis sampah rumah tangga seperti sisa sayur mayur diolah menjadi kompos.

"Sisanya kami kirim ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) di (Kecamatan) Piyungan (Kabupaten Bantul)," katanya.

Saat ini Danang dibantu oleh 6 pekerja yang merupakan pemuda di kampungnya. Setiap bulannya, para pekerja tersebut diupah antara Rp600 ribu sampai Rp700 ribu.  Selain itu, Danang mengaku setiap bulan bisa menyetor uang sebesar Rp400 ribu untuk kas dusun.

"Namun, kami terkendala oleh kuota kubikasi bulanan yang harus disetorkan ke TPA Piyungan. Kami juga masih membutuhkan sejumlah peralatan pendukung pengolahan sampah," katanya.

Menanggapi hal itu, DWS menyatakan akan mempelajari lebih lanjut dan berharap dapat memecahkan persoalan sampah di masa yang akan datang. Strateginya, pasangan yang maju bersama Raden Agus Choliq itu menyebut harus ada desentralisasi dan upaya bersama.

"Persoalan sampah ini tidak populer pada hajatan pilkada, namun saya 'concern' dan merasa ini akan jadi bom waktu jika tidak ditangani dengan serius," kata DWS.

Dia menyebut penanganan sampah di beberapa wilayah, termasuk Sleman masih sebatas memindahkan dari satu titik ke titik lainnya. Dia menilai cara tersebut kurang menyentuh akar permasalahan dan cenderung merupakan solusi jangka pendek.

Menurut dia, Sleman mestinya mulai memikirkan integrasi pengelolaan sampah dari hulu hingga ke hilir. Jika tidak, Sleman akan kerepotan apabila ada persoalan di TPA. Setiap saat, TPA Piyungan bisa saja bersinggungan dengan kepentingan warga sekitar fasilitas dan pengelolaan sampah di Sleman tersendat.

Ke depan, DWS ingin pengelolaan sampah dapat dilakukan di setiap wilayah desa dan kecamatan dan hanya sebagian kecil saja yang harus berakhir di TPA. Strategi menyelesaikan urusan sampah di tingkat kecamatan itu harus dibarengi dengan penguatan sumber daya manusia (SDM) agar pemanfaatan sampah menjadi barang bernilai guna lebih maksimal.

"Kendalanya menurut saya adalah persoalan 'manpower'. Ada 'cost' yang harus dikeluarkan untuk tenaga pemrosesan, itu yang harus dibuatkan payung hukumnya dulu agar anggaran pemerintah dapat masuk," kata DWS.

Untuk memastikan pembiayaan pengelolaan sampah dari APBD, menurut dia, perlu ada terobosan. Dia menawarkan pembentukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang fokus pada pelayanan sosial, terutama sampah. Alurnya, BUMDes akan bermitra dengan pengelola sampah baik swasta maupun yang berbasis masyarakat.

Tata laksana kemitraan BUMDes dengan pengelola pemrosesan sampah harus disusun sedemikian rupa agar kedua pihak dapat melaksanakan pelayanan sosial sekaligus kegiatan ekonomi.

"Bahkan saya optimistis pemerintah dapat menghapuskan iuran atau retribusi sampah warga Sleman, jika pengeloaan sampah ini sudah berhasil terpadu, mandiri, dan menghasilkan nilai tambah," kata dia.

DWS mengapresiasi Danang dan rekan-rekannya yang telah melakukan pemrosesan sampah sekaligus menghasilkan nilai tambah secara ekonomi. Dia meminta kesediaan Danang untuk diajak duduk bersama apabila dirinya dipercaya mendapatkan amanah memimpin Sleman.

"Nanti kita diskusi lebih lanjut mas, karena ini bisa dijadikan 'pilot project' untuk penanganan sampah di seluruh wilayah Sleman di masa yang akan datang," kata DWS.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar