Eropa membenarkan terjadi pencurian data serangan siber

id Badan Pengawas Obat Eropa (EMA) ,serangan siber,vaksin COVID-19

Eropa membenarkan terjadi pencurian data serangan siber

Margaret Keenan, 90, orang pertama di Inggris yang menerima vaksin COVID-19 buatan Pfizer/BioNTech di Rumah Sakit Universitas, disuntik oleh suster May Parsons,pada awal program imunisasi terbesar dalam sejarah Inggris, di Coventry, Inggris, Selasa (8/12/2020). Inggris menjadi negara pertama di dunia yang memulai vaksinasi warganya dengan vaksin buatan Pfizer/BioNTech. Jacob King/Pool via REUTERS /WSJ/djo

Amsterdam (ANTARA) - Regulator medis Eropa pada Jumat (11/12) membenarkan bahwa telah terjadi pencurian data melalui serangan siber yang diungkapkan beberapa hari sebelumnya. 

Regulator tersebut, Badan Pengawas Obat Eropa (EMA), juga mengungkapkan bahwa sejumlah dokumen milik pihak ketiga diakses secara tidak sah.

EMA pada Rabu (9/12) tidak memberikan informasi apa pun ketika mengungkapkan serangan siber tersebut. Namun, perusahaan Pfizer dan BioNTech SE menyebutkan bahwa dokumen terkait perkembangan vaksin COVID-19 mereka "diakses secara ilegal."

Pada Jumat, EMA mengatakan "perusahaan-perusahaan terkait" telah diberi tahu mengenai kejadian itu, namun tidak menyebutkan nama-nama perusahaan yang dimaksud.

Otoritas juga menyatakan bahwa insiden tersebut tidak memengaruhi operasi, atau jadwal, terkait evaluasi serta persetujuan obat dan vaksin COVID-19.

Sumber: Reuters 
Pewarta :
Editor: Sutarmi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar