DLH Kota Yogyakarta targetkan bank sampah turunkan 5 persen volume sampah

id bank sampah,pengurangan sampah,yogyakarta

DLH Kota Yogyakarta targetkan bank sampah turunkan 5 persen volume sampah

Ilustrasi - Tumpukan sampah di salah satu tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta akibat tidak beroperasinya TPST Piyungan, 21 Desember 2020. (HO-DLH Kota Yogyakarta)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta menargetkan bank sampah di kota tersebut mampu meningkatkan peran untuk menurunkan volume sampah yang dihasilkan sebesar lima persen.



“Angka lima persen dinilai merupakan target yang realistis. Saat ini, bank sampah baru berperan menurunkan dua hingga tiga persen sampah yang dihasilkan,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Haryoko di Yogyakarta, Rabu.



Berdasarkan data, di Kota Yogyakarta saat ini tercatat sebanyak 481 bank sampah yang aktif.



Menurut dia, upaya untuk memaksimalkan peran bank sampah guna menurunkan volume sampah dapat dilakukan dengan menjalin kerja sama dengan pemulung yang banyak tersebar di sejumlah tempat pembuangan sampah sementara.



Ia menyebut, untuk memaksimalkan peran bank sampah juga harus disertai dengan upaya untu memberikan pemahaman guna mengubah “mindset” masyarakat dalam pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.



“Mengubah ‘mindset’ tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Butuh waktu yang panjang, apalagi penduduk di Kota Yogyakarta sangat heterogen, banyak juga pendatang,” katanya.



Saat ini, lanjut dia, sebagian besar jenis sampah yang dikelola oleh bank sampah masih berupa sampak anorganik, sedangkan untuk pengelolaan sampah organik belum tergarap maksimal.



“Sampah organik bisa dikelola menjadi kompos. Terlebih, 60 persen sampah yang dihasilkan di Kota Yogyakarta adalah sampah organik sehingga ini menjadi perhatian bersama,” katanya.



Rata-rata volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta setiap hari sekitar 360 ton.



Sebelumnya, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan, pengelolaan sampah organik juga sudah dilakukan oleh kampung sayur yang mengolahnya untuk pemenuhan kebutuhan pupuk kompos.



Hanya saja, lanjut dia, pengelolaan sampah akan semakin maksimal jika didukung kesadaran masyarakat dengan menerapkan prinsip 3R, reduce reuse and recycle. “Jika tidak, maka permasalahan penumpukan sampah, terutama saat TPST Piyungan ditutup akan selalu terjadi,” katanya.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar