BPBD Bantul akan merelokasi enam rumah rawan terdampak tanah longsor

id BPBD Bantul,BPBD Bantul relokasi enam rumah,relokasi rumah rawan terdampak tanah longsor

BPBD Bantul akan merelokasi enam rumah rawan terdampak tanah longsor

Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto meninjau lokasi tanah longsor yang menimpa rumah di Dlingo, Bantul pada Rabu (20/1/2021) (Foto BPBD Bantul)

Bantul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta akan merelokasi atau memindahkan lokasi enam rumah warga rawan terdampak tanah longsor di wilayah pedukuhan Glingseng, Desa Munthuk, Kecamatan Dlingo.

"Untuk di Dlingo, penanganan sementara ini rumah tersebut kami kosongkan, dan mereka mengungsi ke tempat saudara yang lebih aman, dan rencana memang akan kita relokasi," kata Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto di Bantul, Sabtu.

Menurut dia, relokasi enam rumah warga di wilayah Glingseng itu karena lokasi tidak layak ditempati untuk pemukiman menyusul keadaan membahayakan kejadian tanah longsor usai hujan lebat beberapa waktu lalu yang mengancam rumah tersebut.

Bahkan, dua rumah di antaranya bagian belakang telah tertimpa tanah longsor akibat kejadian pada Selasa (19/1) lalu, kemudian satu rumah lagi yang terancam terdampak longsor apabila hujan deras mengguyur dalam waktu lama, karena berjarak sekitar tiga meter dari titik longsor.

"Kalau kita paksakan (ditempati) suatu saat akan terjadi longsor dan tidak menutup kemungkinan ada korban, jadi ada tiga rumah, terdiri tiga keluarga (KK) yang harus dikosongkan, dan yang potensi masih di Glingseng ada tiga KK, sehingga ada enam rumah yang harus direlokasi," katanya.

Menurut dia, enam rumah yang terdiri dari enam keluarga tersebut, masing-masing keluarga rata-rata terdiri empat jiwa, sehingga semuanya berjumlah sekitar 24 jiwa yang secara langsung menempati rumah di lokasi yang sudah tidak layak untuk pemukiman.

Selain di wilayah Dlingo, Dwi menyebut ada dua rumah lagi di wilayah Desa Sitimulyo Kecamatan Piyungan yang terancam terdampak longsor, menyusul adanya keretakan jalan aspal akibat talut jalan di atas rumah ambrol karena hujan lebat akibat cuaca ekstrem lalu.

"Di wilayah Sitimulyo Piyungan, ada dua rumah warga terdampak, karena sebagian talut sudah ambrol, sebagian lagi jalan aspal sudah retak, jadi manakala kondisi hujan terus menerus, tidak menutup kemungkinan terjadi longsor, ambrol susulan dan menyebabkan rumah rawan," katanya.

Oleh karena itu, dia berharap masyarakat menyadari potensi bahaya, mengingat hujan dengan curah tinggi masih sangat berpotensi terjadi pada musim hujan ini, karena berdasarkan prediksi BMKG puncak hujan 2020/2021 terjadi pada Januari-Februari.

"Sehingga untuk sementara ini kita menyarankan warga masyarakat di sekitar itu untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman," katanya.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar