137 pengungsi Merapi di barak Purwobinangun dipulangkan

id Pengungsi erupsi Merapi ,Pengungsi Purwobinangun pulang ,Wabup Sleman ,Menteri PPPA,Erupsi gunung Merapi ,Awan panas Mer

137 pengungsi Merapi di barak Purwobinangun dipulangkan

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun bersama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Bintang Darmawanti memulangan pengungsi erupsi Merapi di barak pengungsian Purwobinangun. Antara/HO-Humas Pemkab Sleman

Sebelumnya dilakukan koordinasi antara BPBD Sleman bersama dengan BPPTKG, dan diketahui bahwa potensi ancaman bahaya mencapai radius 5 kilometer, sedangkan ancaman lontaran material Merapi maksimal berjarak 3 kilometer dan jarak Kalurahan Turgo sejau
Sleman (ANTARA) - Sebanyak 137 pengungsi bencana erupsi Gunung Merapi yang berada di barak pengungsian Kelurahan Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diperbolehkan pulang pada Selasa pagi,

Pemulangan pengungsi dilakukan Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun bersama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Bintang Darmawanti di barak pengungsian Purwobinangun.

Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun menjelaskan para pengungsi tersebut diperbolehkan pulang ke rumahnya masing-masing berdasarkan rekomendasi BPPTKG yang sebelumnya telah melakukan koordinasi dengan BPBD Sleman terkait potensi ancaman bahaya Merapi.

"Sebelumnya dilakukan koordinasi antara BPBD Sleman bersama dengan BPPTKG, dan diketahui bahwa potensi ancaman bahaya mencapai radius 5 kilometer, sedangkan ancaman lontaran material Merapi maksimal berjarak 3 kilometer dan jarak Kalurahan Turgo sejauh 6,5 kilometer, maka pengungsi diperbolehkan pulang," katanya.

Baca juga: BPPTKG: Guguran lava pijar Merapi meluncur ke arah Kali Krasak dan Boyong

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Joko Supriyanto mengatakan bahwa sekalipun diperbolehkan kembali pulang ke rumah masing-masing, warga Dusun Turgo ini juga diminta untuk tetap waspada dikarenakan status Gunung Merapi masih pada level III atau Siaga.

Joko juga menyebut seluruh posko penanggulangan bencana Merapi mulai dari tingkat dusun tetap disiagakan untuk melayani masyarakat jika di malam hari merasa khawatir terhadap kondisi Merapi.

"Kami tetap waspada karena status Gunung Merapi masih siaga belum diturunkan ke waspada. Jika ada peningkatan aktivitas Merapi, datang di titik kumpul (posko tingkat desa) yang masih tetap disiagakan," katanya.

Baca juga: BPBD Sleman: Pengungsi Merapi di Purwobinangun diperbolehkan pulang

Sementara terkait dengan kunjungan Menteri PPPA, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun beserta jajaran melakukan pendampingan bagi Menteri PPPA beserta rombongan untuk melihat situasi pengungsian Purwobinangun.

Menteri PPPA I Gusti Bintang Darmawanti mengatakan bahwa kunjungannya di lokasi pengungsian Purwobinangun untuk memastikan penanganan atau pelayanan khusus bagi perempuan dan anak dilakukan dengan baik.

I Gusti Bintang Darmawanti mengaku dirinya melihat berbagai pemberitaan dari media yang memperlihatkan kondisi barak pengungsian Merapi di wilayah Kabupaten Sleman.

"Kami juga ingin memastikan situasi di lapangan sesuai dengan informasi yang kami dapatkan. Setelah kami di lapangan, luar biasa pendampingan yang dilakukan Pemerintah Daerah khususnya Pemkab Sleman, kebutuhan perempuan dan anak, sarana pembelajaran sudah ada, permainan sudah ada," katanya.

Bahkan saat dirinya bertanya kepada anak-anak di barak pengungsian, anak-anak mengaku merasa nyaman ada di pengungsian ini dan tidak mau pulang kembali ke rumah.

"Hal tersebut merupakan wujud nyata adanya kerja sama yang baik, kolaborasi yang baik dalam penanganan dan pemenuhan kebutuhan bagi perempuan dan anak di barak pengungsian erupsi Gunung Merapi," katanya.*


 
Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun bersama dengan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Bintang Darmawanti melakukan pulangan pengungsi erupsi Merapi di barak pengungsian Purwobinangun. Foto Antara/HO-Humas Pemkab Sleman
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar