DLH Yogyakarta siapkan digitalisasi penanganan sampah

id pengurangan sampah,yogyakarta,digitalisasi

DLH Yogyakarta siapkan digitalisasi penanganan sampah

Ilustrasi - Luberan sampah yang terjadi di salah satu depo sampah di Kota Yogyakarta akibat penutupan TPA Piyungan pada pertengahan Desember 2020. (ANTARA/HO-DLH Kota Yogyakarta)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Kota Yogyakarta terus mendorong peningkatan peran masyarakat dalam upaya pengurangan volume sampah, salah satunya dengan menyiapkan digitalisasi penanganan sampah.

“Digitalisasi yang dimaksud adalah memanfaatkan berbagai platform digital untuk melakukan kampanye pengurangan sampah. Salah satunya, mengunggah kegiatan pengurangan sampah ke media sosial. Misalnya saat ada pelatihan pembuatan kerajinan dari sampah,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto usai peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Yogyakarta, Kamis.

Ia berharap, masyarakat yang belum mengetahui atau memahami upaya pengurangan sampah bisa tergerak untuk melakukan kegiatan serupa sehingga volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan berkurang.

Digitalisasi juga akan dilakukan dengan menyusun sistem harga hingga mekanisme pembayaran khususnya untuk operasional bank sampah.

“Kegiatan ini yang sedang kami lakukan,” kata Sugeng yang menyebut di Kota Yogyakarta saat ini memiliki 481 bank sampah.

Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta berupaya untuk menambah jumlah bank sampah hingga mencapai proporsi yang ideal yaitu setiap rukun warga (RW) memiliki setidaknya satu bank sampah. Di Kota Yogyakarta terdapat lebih dari 600 RW.

Hingga saat ini, ratusan bank sampah yang beroperasi di Yogyakarta baru memberikan kontribusi sekitar dua persen untuk pengurangan sampah.

“Kami akan tingkatkan hingga lima persen,” kata dia.

Salah satu kendala dalam upaya pengurangan sampah, lanjut Sugeng, terletak di sisi hulu yaitu dari rumah tangga yang belum melakukan upaya pemilahan sampah.

“Yang paling mudah adalah memilah sampah organik dan anorganik. Pemilahan sampah dari rumah tangga ini yang masih perlu terus digerakkan,” katanya.

Sampah yang sudah terpilah kemudian diolah menjadi kompos untuk sampah organik.

“Kegiatan ini bisa dilakukan di rumah tangga,” katanya.

Sampah anorganik dikirim ke bank sampah untuk diolah menjadi produk kerajinan atau kreativitas lain atau dijual ke pengepul.

“Manajemen pengelolaan bank sampah juga harus ditingkatkan sehingga penyerapan sampah pun optimal,” katanya.

DLH Kota Yogyakarta menyiapkan fasilitator kelurahan (faskel) dua orang per kelurahan untuk memberikan motivasi kepada masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui bank sampah.

“Harapannya kinerja bank sampah semakin baik, ditandai dengan serapan sampah yang meningkat sehingga sampah yang dibuang ke TPA Piyungan berkurang,” katanya.
 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar