NU perlu penjernihan organisasi songsong kebangkitan kedua

id NU,PBNU,Kebangkitan kedua,Yogyakarta

NU perlu penjernihan organisasi songsong kebangkitan kedua

Para kiai sepuh menghadiri sarasehan bertajuk "Menakar Masa Depan NU dan Pesantren Dalam Menyongsong An Nahdlah Ats Tsaniyah (Kebangkitan Kedua)" di Ponpes Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Senin (22-3-2021). ANTARA/HO-PBNU

Yogyakarta (ANTARA) - Katib Aam PBNU Kiai Haji Yahya Cholil Staquf mengatakan Nahdlatul Ulama perlu melakukan upaya penjernihan dengan menata organisasi secara lebih rapi untuk menyongsong kebangkitan kedua organisasi tersebut.

"Tahliyatul jam'iyyah (menjernihkan organisasi) itu menuntut penegasan agenda-agenda dan penataan organisasi yang lebih rapi untuk menjalankan strategi secara koheren, padu, dan terarah," kata Yahya Staquf dalam sarasehan bertajuk "Menakar Masa Depan NU dan Pesantren dalam Menyongsong An-Nahdlah Ats-Tsaniyah (Kebangkitan Kedua)" di Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta, Senin.

Menurut Yahya, tantangan era millenial dan realitas pascapandemi telah membawa perubahan-perubahan sosial, budaya, serta politik yang sangat fundamental sehingga ruang fisik bagi aktualisasi tradisi pun makin menyempit.

Dalam kondisi tersebut, menurut dia, NU dan pesantren bakal terancam larut begitu saja dalam dinamika yang terjadi tanpa kontribusi yang berarti jika tak diimbangi dengan strategi kuat serta operasionalisasi yang koheren.

Oleh sebab itu, menurut Gus Yahya, sapaan akrabnya, NU sebagai organisasi (jam'iyyah) membutuhkan penjernihan agar gesturnya bisa menghadirkan cita-cita dasar, yakni khitthah nahdliyyah secara lebih utuh.

Menurut pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang ini, untuk mewujudkan harapan tersebut memerlukan sekurang-kurangnya tiga hal.

"Visi masa depan yang valid, komitmen kepemimpinan yang kokoh, dan konstruksi (tandhim) organisasi yang koheren," katanya.

Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah K.H. Ubaidillah Shodaqoh menekankan bahwa kebutuhan mendesak NU saat ini adalah mengonsolidasikan struktur kepengurusan organisasi hingga ke ranting-ranting.

Ubaidillah mengusulkan perlunya mengakomodasi elemen-elemen kreatif yang saat ini masih di luar struktur.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur K.H. Marzuki Mustamar menyoroti tiga kebutuhan mendasar bagi NU ke depan.

"Pertama, mengawal regenerasi kepemimpinan untuk memelihara kredibilitas NU di tengah masyarakat. Kedua, memperkuat kembali komitmen kepemimpinan NU kepada warga di tingkat basis. Ketiga, menghadirkan NU secara nyata dalam dinamika masyarakat," katanya.

Dalam kesempatan serupa, putri mantan Presiden K.H. Abdurrahman Wahid, Zannuba Ariffah Chafsoh atau yang biasa disapa Yenny Wahid, mengingatkan tantangan-tantangan NU yang muncul akibat berbagai macam disrupsi, baik teknologi maupun disrupsi akibat pandemi.

"NU dan pesantren harus merespons disrupsi-disrupsi itu secara tepat dan strategis," kata Yenny Wahid.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar