Kasus COVID di Asia melonjak, rumah sakit kekurangan ranjang

id COVID-19,Asia,rumah sakit kewalahan

Kasus COVID di Asia melonjak, rumah sakit kekurangan ranjang

Ribuan pertapa suci Hindu berpartisipasi dalam prosesi pengambilan air dari Sungai Gangga yang merupakan rangkaian dari perayaan "Kumbh Mela" di Haridwar, India, Rabu (14/4/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Anushree Fadnavis/foc.

Situasinya mengerikan. Kami adalah rumah sakit dengan 900 tempat tidur, tetapi ada sekitar 60 pasien yang menunggu dan kami tidak memiliki tempat untuk mereka,.
New Delhi (ANTARA) - India dan Thailand melaporkan rekor kasus virus korona setiap hari pada Kamis, ketika gelombang baru infeksi, dikombinasikan dengan kekurangan tempat tidur rumah sakit dan vaksin, mengancam memperlambat pemulihan Asia dari pandemi.

India mengalami 200.000 infeksi harian untuk pertama kalinya pada Kamis dan pusat keuangan Mumbai ditutup, karena banyak rumah sakit melaporkan kekurangan tempat tidur dan persediaan oksigen.

"Situasinya mengerikan. Kami adalah rumah sakit dengan 900 tempat tidur, tetapi ada sekitar 60 pasien yang menunggu dan kami tidak memiliki tempat untuk mereka," kata Avinash Gawande, seorang pejabat di Sekolah Tinggi dan Rumah Sakit Medis Pemerintah di Nagpur, pusat dagang di Maharashtra.

Baca juga: Pemkab Bantul gencarkan 3T percepat temukan kasus baru terpapar COVID-19

Lonjakan tersebut merupakan rekor kenaikan harian ketujuh dalam delapan hari terakhir dan membuat total beban kasus menjadi 14,1 juta, hanya kedua setelah Amerika Serikat.

Ratusan ribu peziarah memadati festival keagamaan di utara negara itu pada Rabu (14/4), memicu kekhawatiran akan lonjakan kasus COVID-19 lagi.

Meningkatnya infeksi juga membebani sistem perawatan kesehatan di Manila dan Bangkok.

Filipina menyaksikan banyak rumah sakit di wilayah ibu kotanya, rumah bagi sekitar 13 juta orang, terisi, seiring meningkatnya kasus. Kasus virus corona yang dikonfirmasi dalam 30 hari terakhir saja mencapai 266.489, menyumbang 30% dari total infeksi di negara itu.

Baca juga: Turki catat kasus kematian harian COVID tertinggi sejak awal pandemi

Beberapa keluarga pasien COVID-19 telah turun ke media sosial untuk berbagi penderitaan mereka dalam mencari rumah sakit. Beberapa bepergian ke luar ibu kota untuk mencari fasilitas kesehatan, atau menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean.

Thailand melaporkan 1.543 kasus virus corona baru pada Kamis, peningkatan paling tajam sejak dimulainya pandemi dan rekor kenaikan keempat minggu ini.

Lonjakan tersebut telah meningkatkan tingkat hunian tempat tidur rumah sakit karena semua kasus positif harus dirawat di bawah peraturan Thailand. Sebanyak 8.973 pasien sedang dirawat.

Sementara negara itu mempertimbangkan langkah-langkah penguncian, tetangganya Kamboja memberlakukan penguncian di ibu kotanya dan distrik satelit pada Kamis ketika wabah yang dimulai pada akhir Februari membuat kasus melonjak hampir sepuluh kali lipat menjadi 4.874 dalam dua bulan.

Bangladesh juga memulai penguncian selama seminggu dengan pembatasan ketat pada Rabu karena infeksi telah mencapai sekitar 7.000 kasus sehari dalam dua minggu terakhir dari di bawah 300 pada Februari.

Pendekatan vaksin

Ketika kesenjangan antara akses negara maju dan berkembang untuk vaksin COVID-19 tumbuh, kepala Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada Rabu mendesak pembuat vaksin untuk meningkatkan transfer teknologi untuk menambah kapasitas produksi.

Thailand, misalnya, memvaksin 0,4% dari populasinya, membuntuti tetangga, seperti Singapura dengan 14,6%, menurut perkiraan Reuters.

Ngozi Okonjo-Iweala, yang menjadi direktur jenderal WTO pada Maret, juga meminta anggotanya untuk mengurangi pembatasan ekspor vaksin dan bekerja untuk memudahkan prosedur logistik dan bea cukai.

Di Australia, yang membatalkan target inokulasi awal pekan ini setelah penundaan pengiriman dan pembatasan baru yang diberlakukan pada penggunaan suntikan AstraZeneca, asosiasi dokter terkemuka menentang rencana pemerintah untuk membuat pusat inokulasi massal, dengan alasan tantangan logistik.

"Anda perlu mencari tenaga kerja dari suatu tempat, dan kami tidak mengetahui sejumlah besar perawat dan dokter terdaftar yang tersedia untuk mengelola pusat-pusat ini," kata Presiden Asosiasi Medis Australia (AMA) Omar Khorshid kepada radio lokal.

Jepang, yang kecepatan inokulasinya dipengaruhi oleh pasokan yang terbatas, dapat membatalkan Olimpiade tahun ini di Tokyo jika krisis virus corona menjadi terlalu parah, kata seorang pejabat senior partai yang berkuasa pada Kamis, kurang dari 100 hari sebelum dimulainya pertandingan yang direncanakan.

"Jika tampaknya tidak mungkin untuk melakukannya lagi, maka kami harus berhenti, dengan tegas," kata Toshihiro Nikai, sekretaris jenderal Partai Demokrat Liberal, kepada penyiar TBS.

Jepang bergulat dengan meningkatnya infeksi virus corona, dengan angka yang cenderung lebih tinggi di Tokyo setelah pemerintah mengakhiri keadaan darurat, dan Osaka menderita rekor jumlah kasus.
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar