BLT Dana Desa diyakini berdampak besar pada pemulihan ekonomi desa

id Dana desa,Pandemi,Covid

BLT Dana Desa diyakini berdampak besar pada pemulihan ekonomi desa

Warga menerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa di Balai Desa Tanjungkarang, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Senin (18/5/2020). Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi memberikan BLT-Dana Desa Rp600 ribu per bulan per keluara selama tiga bulan kepada warga miskin dan warga yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19. (ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO)

Yogyakarta (ANTARA) - Di tengah pandemi COVID-19, anggaran Dana Desa dialihkan sebagian menjadi jaring pengaman sosial melalui program Bantuan Dana Tunai Langsung Dana Desa (BLT DD).

Direktur Fasilitasi Pemanfaatan Dana Desa, Kemendes PDTT Luthfy Latief melalui keterangan tertulis di Yogyakarta, Minggu, menjelaskan sasaran penerima BLT DD ini merupakan masyarakat desa yang masih membutuhkan bantuan ekonomi seperti masyarakat yang kehilangan mata pencaharian akibat COVID-19, masyarakat yang belum terdata pada kelompok penerima bantuan sosial lainnya, dan masyarakat yang memiliki anggota keluarga dengan sakit kronis.

"Kementerian Desa dan pemangku kepentingan lainnya terus mengawal penyaluran BLT DD 
agar tersampaikan kepada mereka yang memenuhi syarat penerima bantuan tersebut," kata Luthfy.

Pada 2021, melalui Permendesa PDTT 13/2020, realokasi anggaran Dana Desa dititikberatkan pada tiga hal yakni pemulihan ekonomi nasional sesuai kewenangan desa, mendukung program prioritas nasional sesuai kewenangan desa, serta adaptasi kebiasaan baru melalui sosialisasi pencegahan dan penanggulangan COVID-19 di tingkat desa. 

Ia menyebutkan pencairan BLT DD, pada Januari 2021 sudah tersalurkan Rp1,28 triliun dengan penerima manfaat lebih dari 4,27 juta keluarga. 

Berikutnya pada Februari 2021 sudah tersalurkan kepada 2,8 juta penerima manfaat dengan total dana tersalurkan mencapai Rp850 miliar. Pada bulan Maret 2021 sudah dicairkan sebesar Rp507 miliar kepada 1,6 juta penerima manfaat. 

"Kemudian pada April sudah tersalurkan Rp294 miliar kepada 980 ribu penerima manfaat. Dan pada Mei 2021 sudah dicairkan Rp159 miliar kepada 531 ribu penerima manfaat," kata dia.

Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono mengatakan di tengah melemahnya perekonomian akibat COVID-19, satu-satunya yang bisa diharapkan adalah stimulus keuangan dari pemerintah. 

"Program BLT DD ini sangat membantu untuk mendorong konsumsi masyarakat. Karena sisi permintaan inilah yang paling terdampak oleh pandemi dan ini menekan belanja masyarakat," ujar Teguh.

Teguh juga melihat bahwa masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah yang menjadi 
sasaran BLT DD ini juga berbelanja di komunitas lokal. 

Dengan begitu, menurut dia, BLT DD membantu mendorong konsumsi masyarakat untuk berbelanja di UMKM lokal. Di sisi lain, program PEN juga mendukung sisi suplai lewat bantuan kepada UMKM melalui bantuan usaha mikro yang menyeimbangkan neraca suplai dan demand di masa pandemi.

"Survei Mandiri Institute pada Maret-April 2021, 80 persen UMKM kita telah kembali beroperasi secara normal. Sebelumnya di awal pandemi hanya 33 persen yang beroperasi secara normal. Saya kira ini dampak positif dari program-program stimulus yang diberikan pemerintah," kata Teguh.

Sementara itu, dari sisi kebijakan publik, Direktur Rumah Reformasi Kebijakan sekaligus pengamat kebijakan publik Riant Nugroho menyatakan apapun bantuan pemerintah di pedesaan, tidak semata diukur dari besarannya saja tapi dampaknya. 

"Sehingga kalau kita bisa gali lebih jauh 
lagi, sebenarnya potensi pedesaan untuk menjadi panglima ekonomi di masa COVID-19 sangat besar," tambah Riant Nugroho.







 
Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar