Petani Ngawen Gunung Kidul panen padi hibrida 11,6 ton per hektare

id Supadi 56,Gunung Kidul,panen padi

Petani Ngawen Gunung Kidul panen padi hibrida 11,6 ton per hektare

Panen padi di Gunung Kidul. ANTARA/Sutarmi

Gunung Kidul (ANTARA) - Petani di Desa Kampung, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada awal Juni menggelar panen raya padi hibrida varietas Supadi 56 di lahan seluas 17 hektare dengan produktivitas 11,6 ton gabah kering panen (GKP) per hektare.

Ketua Gapoktan Mertani Kampung Ngawen Sukirno di Gunung Kidul, Minggu, mengatakan kelompoknya menanam padi hibrida varietas Supadi 56 seluas 17 hektarea dari total 30 hektare lahan di kelompoknya.

"Produktivitas padi hibrida ini sangat memuaskan hingga mencapai 11,6 ton gabah kering panen per hektare atau setara dengan 9,4 ton gabah kering giling per hektare," kata Sukirno.

Ia memperkirakan pendapatan kotor yang diperoleh dari hasil panen ini mencapai Rp671,16 juta. Angka ini dihitung berdasarkan harga gabah yang mencapai Rp4.200,00 per kilogram. Kalau dihitung per hektare, pendapatan kotornya sekitar Rp39,48 juta.

"Ke depan, kami akan menggunakan varietas padi ini, sehingga meningkatkan pendapatan petani," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunung Kidul Bambang Wisnu Broto menyampaikan padi hibrida yang dipanen bernama Supadi 56. Jenis ini menghasilkan 11,6 ton gabah kering panen per hektare.

Ia mengatakan hasil panen tersebut tergolong tinggi di Ngawen. Hal tersebut juga didukung dengan kondisi cuaca sehingga hasil yang didapat bisa lebih maksimal. Menurutnya, hingga Mei, Gunung Kidul masih mendapatkan hujan rata-rata dua hari. Adapun angka curah hujannya mencapai 16,2 milimeter (mm).

"Hal itu pula yang bisa membantu petani Ngawen untuk mendapatkan panen padi ini secara maksimal," katanya.

Bambang berharap petani melakukan budi daya tanaman pangan dengan baik sehingga hasilnya bisa optimal. Mereka juga diharapkan berpegang pada filosofi Lumbung Mataraman. Filosofi khas masyarakat petani DIY tersebut berarti "makan apa yang bisa ditanam dan menanam apa yang dimakan". Prinsip ini juga menjadi upaya menjaga ketahanan pangan di Gunung Kidul.

"Kami berharap kegiatan pertanian keluarga juga terus bertahan dan berkembang ke depan," harap Bambang.

Pewarta :
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.