Tidak ada calon siswa penuhi syarat PPDB SD Yogyakarta cerdas istimewa

id PPDB,SD,Yogyakarta,jalur cerdas istimewa

Tidak ada calon siswa penuhi syarat PPDB SD Yogyakarta cerdas istimewa

Ilustrasi - Proses PPDB di Kota Yogyakarta (Eka AR)

Yogyakarta (ANTARA) - Hingga tenggat waktu penerimaan peserta didik baru jenjang SD untuk jalur cerdas istimewa ditutup pada Kamis (10/6), tidak ada satu pun calon siswa yang mendaftar, karena tidak ada anak yang memenuhi syarat, yaitu memiliki IQ minimal 130.

“Dari hasil asesmen yang kami lakukan maupun dari psikolog lain, tidak ada anak yang memenuhi syarat IQ minimal 130 skala weschler. Hasil tertinggi untuk IQ hanya 125,” kata Kepala Unit Layanan Disabilitas Kota Yogyakarta Aris Widodo di Yogyakarta, Jumat.



Menurut dia, terdapat sembilan calon siswa yang melakukan asesmen IQ untuk syarat mendaftar SD jalur cerdas istimewa. Namun, seluruhnya tidak memenuhi syarat yang ditetapkan.

Penerimaan siswa baru jenjang SD dari jalur cerdas istimewa tersebut kembali dilakukan pada tahun ajaran 2021/2022 dengan kuota lima persen dari kapasitas SD.

Sebelumnya, sudah pernah dibuka kelas untuk anak cerdas istimewa pada 2014 yang dilakukan di SD Ungaran. Sempat ada empat angkatan siswa dari kelas khusus tersebut, masing-masing diikuti 12 anak pada angkatan pertama, kedua, dan keempat,  serta 24 siswa pada angkatan ketiga.

“Syaratnya memang sangat ketat, yaitu memiliki IQ minimal 130. Jika dari hasil asesmen ada anak yang memiliki IQ 129 juga tidak bisa kami terima,” katanya.

Aris menduga tidak adanya calon siswa dengan IQ minimal 130 tersebut disebabkan tidak maksimalnya stimulasi lingkungan kepada anak selama masa pandemi COVID-19, sehingga hasil tes yang mereka ikuti menjadi tidak optimal.

Alokasi kursi kosong dari jalur cerdas istimewa tersebut, kemudian dialihkan untuk menambah alokasi kursi dari jalur zonasi wilayah.

Selain jalur cerdas istimewa, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta juga membuka jalur afirmasi untuk siswa disabilitas atau berkebutuhan khusus dengan alokasi kursi lima persen dari total kapasitas sekolah.



“Sudah ada empat yang lolos asesmen. Keempatnya kemudian ditempatkan di empat sekolah yang berbeda. Ada yang tuna daksa, mengalami gangguan konsentrasi, dan autis,” katanya.

Penempatan siswa di SD didasarkan pada berbagai aspek, di antaranya pilihan orang tua dan jarak sekolah dengan rumah. “Tidak ada yang fanatik dengan sekolah tertentu. Nanti, kami akan carikan guru pendamping untuk mendampingi siswa berkebutuhan khusus ini,” katanya.
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar