Rektor UII : Profesor harus mampu menembus sekat disiplin ilmu

id Rektor UII,Peofesor,UiI,Sekat disiplin ilmu

Rektor UII : Profesor harus mampu menembus sekat disiplin ilmu

Rektor UII Fathul Wahid memberikan sambutan saat serah terima Surat Keputusan Kenaikan Jabatan Akademik Profesor Jaka Nugraha di Kampus UII, Yogyakarta, Selasa. (ANTARA/HO/UII)

Yogyakarta (ANTARA) - Rektor Universitas Islam Indonesia Fathul Wahid berharap seorang profesor mampu menembus sekat disiplin ilmu dengan menumbuhkan keberanian membuka diri kepada disiplin ilmu baru, tanpa melupakan disiplin ilmu yang lama.

"Untuk memperluas cakrawala pemikiran, melompati pagar disiplin ilmu bukan sesuatu yang haram, dan bahkan perlu disemarakkan," kata Fathul Wahid saat serah terima Surat Keputusan Kenaikan Jabatan Akademik Profesor Jaka Nugraha di Kampus UII, Yogyakarta, Selasa.

Menurut Fathul, seorang profesor harus mampu menjalankan fungsinya layaknya peluru yang mampu menembus sekat untuk menuju sasaran, mulai dari sekat masa lalu, sekat disiplin ilmu, dan sekat ranah aplikasi.

Sekat masa lalu, kata dia, harus diruntuhkan dengan berikhtiar membuka diri mengakrabkan diri dengan perkembangan mutakhir.

"Bahkan tidak jarang, sampai level tertentu, kita perlu melupakan apa yang sudah dipelajari di masa lampau, dan menggantinya dengan pengetahuan yang lebih mutakhir," ujar dia.



Menurut dia, hanya dengan cara seperti itu, saling memahami antardisiplin dapat dikembangkan dan kerja sama yang bermakna akan dapat dijalankan.

Selain menjalankan peran layaknya peluru, menurut dia, profesor juga harus berperan seperti pemburu. Artinya, meski sudah sampai pada jabatan akademik tertinggi, harus terus haus ilmu dan tidak pernah merasa cukup dengan pengetahuan yang dipunyai.

"Dalam tataran praktis, ini bisa dilakukan dengan banyak membaca, konsisten meneliti, dan juga rajin melakukan diskusi untuk memperluas perspektif," kata dia.

Fathul mengatakan profesor juga harus bisa menjadi penjuru sebagai rujukan untuk banyak hal, termasuk teladan intelektual dan referensi moral.

"Sebagai penjuru intelektual, lagi-lagi, konsistensinya perlu dijaga. Jika ilmuwan seperti nabi yang mendapat wahyu untuk diri sendiri dan tidak punya umat, intelektual ibarat rasul yang mempunyai kewajiban untuk menebarkan wahyu yang diterima kepada umatnya," kata Fathul.
 
Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar