Cegah kematian pasien isoman, BPBD DIY tingkatkan kemampuan satgas desa

id Pasien covid,Isoman,Yogyakarta,DIy

Cegah kematian pasien isoman,  BPBD DIY tingkatkan kemampuan satgas desa

Tim Kubur Cepat membawa jenazah dengan protokol COVID-19 untuk dimakamkan di Badran, Yogyakarta, Selasa (22/6/2021). (ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/hp.))

Harapannya kita mampu mempercepat penanganan di hulunya, jangan sampai kita menangani pasien yang sudah dalam kondisi memburuk saat hendak dirujuk ke rumah sakit,
Yogyakarta (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta meningkatkan kemampuan satuan tugas (satgas) penanganan COVID-19 di tingkat desa hingga RT/RW, untuk mencegah kasus kematian pasien COVID-19 saat isolasi mandiri di rumah.

Kepala Bidang Pencegahan BPBD DIY Danang Samsurizal saat dihubungi di Yogyakarta, Rabu, menuturkan upaya penguatan itu saat ini sudah berjalan melalui program pendampingan melibatkan BPBD kabupaten/kota secara serentak.

"Harapannya kita mampu mempercepat penanganan di hulunya, jangan sampai kita menangani pasien yang sudah dalam kondisi memburuk saat hendak dirujuk ke rumah sakit," kata dia.

Baca juga: Disinformasi masih menjadi tantangan dalam edukasi protokol kesehatan

Menurut Danang, melalui penguatan itu, diharapkan personel satgas di tingkat desa hingga RT/RW mampu melakukan penanganan serta pendataan secara dini warga yang terkonfirmasi positif di lingkungannya, termasuk mendorong mereka melakukan isolasi secara terpusat di selter yang telah disediakan pemerintah daerah.

"Bagitu ada yang positif harus dibangun kesadaran untuk isolasi di selter," kata dia.

Sementara itu, Wakil Komandan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY Indrayanto menyebutkan berdasarkan data penanganan jenazah dengan protokol kesehatan di DIY, mulai tanggal 1 sampai 27 Juli 2021, total pasien COVID-19 yang meninggal dunia saat isoman di rumah mencapai 698 jiwa, sedangkan yang meninggal dunia di rumah sakit sebesar 1.983 jiwa.

Baca juga: DIY percepat vaksinasi COVID-19 untuk pelaku wisata dan ekonomi kreatif

Indrayanto mengakui penguatan kemampuan satgas di tingkat desa hingga RT/RW menjadi salah satu kunci utama untuk menekan kasus kematian pasien COVID-19 saat isoman di rumah di DIY.

"Target utamanya adalah penyelamatan jiwa. Upaya-upaya penyelamatan jiwa yang dilakukan sedini mungkin," ujar Indra.

Ia berharap para satgas tersebut mampu membantu petugas puskesmas mengontrol kelayakan tempat isoman warga di lingkungannya berkoordinasi dengan Satgas Isoman yang dibentuk Dinkes DIY.

"Puskesmas kan kita tahu memiliki keterbatasan SDM. Jarak puskesmas dengan tempat tinggal warga juga terkadang menjadai kendala," kata dia.

Menurut dia, selama ini persoalan pencatatan serta pendataan pasien isoman di level desa hingga RT/RW menjadi salah satu problem penanganan COVID-19 secara cepat.

Baca juga: Gunung Kidul intensifkan vaksinasi pelaku wisata

Satgas yang bertugas dinilai belum mampu melakukan pencatatan serta pendataan secara rapi dan masih menggunakan cara manual.

"Untuk data isoman kan dari dinas kesehatan. Tetapi dari satgas sebetulnya juga ada, cuma proses pencatatannya tidak serapi yang kita harapkan, mekanisme pelaporannya juga tidak 'up to date'. Artinya mereka masih mencatat semaunya," kata dia.

Dengan pendampingan yang akan difasilitasi BPBD, ia berharap para satgas RT/RW hingga desa mampu memperbarui data secara cepat melalui sistem yang disiapkan untuk dilaporkan ke kelurahan, kecamatan, hingga Pusdalops BPBD DIY.

Untuk memastikan pendampingan itu terlaksana di lapangan, menurut dia, BPBD DIY akan melibatkan Babinsa dan Babinkamtibmas untuk mendamlingi Satgas RT/RW.

"Harapannya progres dari penanganan pasien COVID-19 bisa termonitor untuk verifikasi. Harapannya nanti data pasien isoman sudah bisa tersedia. Kemudian yang 'ngeyel-ngeyel' ada berapa orang, yang tertib berapa orang," ujar Indrayanto.
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021

Komentar