Pelaku wisata Gunung Kidul mengharapkan ada kebijakan lain sektor wisata

id Gunung Kidul,pelaku wisata,COVID-19

Pelaku wisata Gunung Kidul mengharapkan ada kebijakan lain sektor wisata

Pemkab Gunung Kidul mengandalkan sektor pariwisata untuk menggerakan perekonomian masyarakat. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Gunung Kidul (ANTARA) - Pelaku wisata di Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan pemerintah punya kebijakan lain dengan adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat, yang berdampak pada penutupan objek wisata, supaya tetap bisa bertahan dalam situasi pandemi COVID-19.



Pemilik Rumah Makan Jogo Segoro di Pantai Ngandong, Rujimantoro di Gunung Kidul, Jumat, mengatakan kebijakan penutupan destinasi wisata sebagai dampak dari pemberlakuan PPKM sangat berpengaruh terhadap perekonomian pelaku usaha di kawasan pantai.



"Kami berharap ada solusi berkaitan dengan penutupan destinasi wisata. Kebijakan ini sangat merugikan bagi pelaku usaha di bidang kepariwisataan," kata Rujimantoro.



Ia mengatakan kebijakan penutupan destinasi wisata menyebabkan secara otomatis warung-warung pada tutup sehingga tidak ada penghasilan. Penutupan destinasi wisata sudah hampir berlangsung selama satu bulan bisa dikatakan melumpuhkan kegiatan ekonomi pelaku wisata, khususnya di Gunung Kidul yang sangat mengandalkan sektor pariwisata.



"Kami berharap kebijakan penutupan ada solusi sehingga pelaku usaha tetap bisa mendapatkan pemasukan untuk menyambung hidup. Jangan dibiarkan karena pelaku wisata kebingungan untuk mencari makan,” harapnya.



Hal yang sama diharapkan Pemilik Rumah Makan Pak Ji Konco Dewe di Pantai Kukup, Mujiyanto. Menurut dia, kebijakan PPKM bukan pembatasan aktivitas, tapi lebih mirip "lockdown". Hal ini menyebabkan pelaku usaha di kawasan pantai tidak bisa bekerja karena kebijakan penutupan destinasi.



"Penutupkan objek wisata, secara otomatis kami tidak mendapatkan penghasilan. Di sisi lain, segala kebutuhan tetap harus dipenuhi mulai makan hingga anggsuran terus berjalan. Kami berharap ada solusi mengatasi persoalan ini. Kami juga harus bertahan hidup,” katanya.



Menurut dia, apabila penutupan wisata terus diperpanjang maka banyak pelaku usaha yang akan gulung tikar. “Bagaimana tidak rugi, wong pengeluaran tidak bisa ditangguhkan, sedangkan dari sisi pendapatan nihil. Lama kelamaan tabungan yang dimiliki habis dan ujung-ujungnya banyak yang gulung tikar,” katanya.



Sementara itu, Sekretaris Dinas Pariwisata Gunung Kidul Hary Sukmono mengatakan penutupan wisata berkaitan erat dengan penerapan PPKM yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat, sehingga di daerah harus mematuhi kebijakan tersebut.



Selain itu, sampai sekarang belum ada instruksi berkaitan dengan pemberian bantuan bagi pelaku wisata.



“Untuk pembukaan wisata, kami masih menunggu instruksi lanjutan. Tapi yang jelas, sekarang masih ditutup. Kami juga belum ada intruksi memberikan bantuan usaha bagi pelaku wisata," katanya.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021