Psikolog sarankan orang tua lakukan simulasi belajar tatap muka

id persiapan sekolah tatap muka, pembelajaran tatap muka, persiapan anak untuk PTM, persiapan orang tua untuk PTM

Psikolog sarankan orang tua lakukan simulasi belajar tatap muka

Para murid duduk berjauhan saat belajar di sekolah dasar Nagoya, Jepang. (REUTERS/KYODO)

Perlu banget (simulasi), karena tantangannya sekarang anak-anak mengalami yang namanya social awkaward. Jadi kalau ketemu temannya merasa aneh.
Jakarta (ANTARA) - Psikolog Keluarga dan Anak, Samanta Elsener menyarankan kepada orang tua untuk membuat simulasi pembelajaran tatap muka (PTM) sebagai upaya membantu anak beradapatasi di lingkungan baru.

"Perlu banget (simulasi), karena tantangannya sekarang anak-anak mengalami yang namanya social awkaward. Jadi kalau ketemu temannya merasa aneh," kata Samanta pada acara Bincang ANTARA ditulis, Kamis.

Kondisi social awkward tercipta karena di masa seharusnya anak belajar bersosialiasi dengan teman sebayanya, justru kesempatan itu terlewati selama hampir dua tahun lamanya karena pandemi mengharuskan anak hanya beraktivitas di dalam rumah.

Baca juga: Yogyakarta berencana menyelenggarakan simulasi PTM pekan depan

Maka dari itu orang tua harus diharuskan secara aktif menyiapkan simulasi agar anak bisa kembali aktif dan ceria saat harus berhadapan dengan lingkungan sosial sebayanya.

Samanta mencontohkan selain membuat simulasi kondisi sekolah di rumah sebelum menyambut PTM, orang tua juga bisa menghadirkan simulasi lingkungan sosial dengan teman sebayanya.

Misalnya orang tua berpura- pura menjadi teman dalam beragam skema sosial seperti sedang bermain dengan teman, atau temannya sedang tidak mau bicara, atau bisa juga orang tua berpura- pura menjadi teman yang sedang sedih.

"Orang tua harus aktif melakukan pendekatan, cari informasi dari guru dan juga orang tua lainnya tentang apa yang sedang dipelajari anak. Dari situ kita bisa menyesuaikan, kita bisa membuat kondisi anak menjadi seimbang lagi. Itu kata kuncinya mengoptimalkan anak secara sosial, sehingga dalam situasi berbeda ia bisa bersikap berbeda," kata Samanta.

Tidak usah khawatir ketika anak mengalami hal tersebut karena dalam dua tahun terakhir anak tidak memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dengan individu sebayanya.

Baca juga: Gunung Kidul tak tergesa-gesa laksanakan PTM

Tidak usah heran juga ketika banyak anak yang terlalu nyaman di dalam rumah dan merasa canggung untuk bersosialisasi ketika harus berkegiatan di luar rumah terutama saat anggota keluarga atau orang yang dikenalnya di rumah tidak ikut mendampingi.

"Selama dua tahun ini anak tidak mendapatkan kesempatan itu (bersosialisasi dengan sebayanya), mereka tidak mengalami yang namanya rebutan barang, rebutan perhatian guru, atau bahkan berkompetisi nilai ulangan. Itu dia tidak mendapatkannya karena pandemi," katanya.

Selain simulasi, orang tua juga wajib menstimulasi buah hatinya lewat bercerita atau membaca buku terkait dengan cara sosialisasi dan nilai- nilai yang terkandung di dalamnya.

Orang tua bisa memberikan stimulasi lewat atau buku cerita yang mengandung nilai persahabatan dan kebersamaan.

Dengan adanya stimulasi sejenis, meski anak- anak sudah lama tak berjumpa teman sebayanya namun kemampuan visualisasi dari cerita yang dimilikinya membantu anak bisa memupuk rasa keingin tahuan dan kepercayaan diri untuk bersosialisasi pada saat Sekolah Tatap Muka mulai dilakukan.
 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021