Novelis: Kerajaan Inggris dapat punah dalam dua generasi

id inggris,kerajaan,monarki

Novelis: Kerajaan Inggris dapat punah dalam dua generasi

Penulis Hilary Mantel menghadiri acara penandatanganan buku "The Mirror and the Light" di London, Inggris, Maret 2020. (ANTARA/Reuters)

Sangat sulit untuk memahami pemikiran di balik kerajaan yang ada di dunia modern ketika mereka hanya dipandang sebagai selebriti.
London (ANTARA) - Kerajaan Inggris yang telah ada dalam sejarah lebih dari 1.000 tahun lalu bisa punah dalam dua generasi, kata penulis Hilary Mantel dalam sebuah wawancara yang disiarkan pada Sabtu.

Sejarah kerajaan itu dimulai ketika William Sang Penakluk menginvasi Inggris pada 1066, meski jauh sebelum itu ada kaitan antara mereka dan percampuran kerajaan-kerajaan di wilayah yang kini menjadi Inggris, Skotlandia dan Wales.

Mantel adalah penulis terkenal "Wolf Hall", novel trilogi yang menelusuri kebangkitan Thomas Cromwell, putra seorang pandai besi yang menjadi kepala menteri Raja Henry VIII, termasuk kejatuhan dan eksekusinya.

Baca juga: Kota Yogyakarta mulai vaksinasi warga dari hasil penyisiran data RT

Dia mengaku mengagumi pengabdian Ratu Elizabeth, 95 tahun, dan Pangeran Charles, sang pewaris kerajaan Inggris.

"Saya pikir mereka melakukan (peran sebagai anggota kerajaan) itu sebaik mungkin, menganggapnya serius," kata Mantel yang berusia 69 tahun kepada The Times.

Namun ketika ditanya berapa lama monarki Inggris akan bertahan, Mantel mengatakan kepada The Times bahwa menurut perhitungan kasarnya, hanya dua generasi.

Baca juga: Kukuhkan 280 mahasiswa baru, Kementan genjot "job creator" dan "job seeker" di Yogyakarta

"Sangat sulit untuk memahami pemikiran di balik kerajaan yang ada di dunia modern ketika mereka hanya dipandang sebagai selebriti," katanya.

Jika prediksi Mantel benar, maka cicit Elizabeth, Pangeran George (8 tahun) yang berada di urutan ketiga pewaris takhta setelah kakeknya, Pangeran Charles (72), dan ayahnya, Pangeran William (39), tidak akan menjadi raja.

Awal bulan ini, Mantel memicu kemarahan di Inggris setelah mengatakan kepada La Repubblica bahwa negara itu sekarang hanyut dalam "kenangan pada kekuasaan".

Dia menggambarkan para Brexiteer --orang-orang yang mendukung keluarnya Inggris dari Uni Eropa-- sebagai oportunis yang tidak dewasa dan sering bersikap konyol.

"Saya ingin orang-orang berhenti berteriak dan mulai mendengarkan satu sama lain," kata Mantel tentang Inggris. "Saya pikir di negara ini sekarang akan ada perubahan yang bisa menyelamatkan kita."

Meskipun berbagai survei menunjukkan dengan jelas bahwa mayoritas warga Inggris terus mendukung monarki, serta menghormati dan mengagumi Ratu Elizabeth, sebuah jajak pendapat pada Mei menunjukkan bahwa orang-orang muda di Inggris sekarang lebih menyukai kepala negara terpilih.

Juru bicara Istana Buckingham menolak berkomentar.

Sumber: Reuters
 
Pewarta :
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021