Dokter: Imunisasi efektif cegah penyakit

id imunisasi

Dokter: Imunisasi efektif cegah penyakit

ilustrasi - Pelayanan imunisasi rutin anak pada masa pandemi COVID-19 (ANTARA/HO-GSK)

Yogyakarta (ANTARA) - Imunisasi merupakan cara yang aman dan efektif untuk mencegah penyakit dan menyelamatkan nyawa, tetapi di tengah pandemi COVID-19, puskesmas mengalami penurunan cakupan imunisasi yang cukup signifikan yaitu sebesar 56,9 persen, kata GlaxoSmithKline (GSK) Vaccine Medical Director dr. Deliana Permatasari.

"Hal ini sangat disayangkan mengingat imunisasi dasar yang lengkap berperan dalam memberi perlindungan anak dari risiko terpapar COVID-19 maupun penyakit KLB PD3I (Kejadian Luar Biasa Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi)," kata Deliana melalui pesan singkat, Selasa (21/9). 

Menyikapi kondisi imunisasi di masa pandemi COVID-19 yang masih berjalan sampai saat ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah melakukan pemutakhiran Rekomendasi Pelayanan Imunisasi Rutin Anak pada Masa Pandemi COVID-19 pada 27 Juli 2021.

Pemutakhiran ini merupakan hasil pertimbangan dari peninjauan pemberian imunisasi rutin saat awal pemberlakuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, situasi terkini pandemi COVID-19 serta perpanjangan PPKM oleh pemerintah.

Dalam pemutakhiran Rekomendasi Pelayanan Imunisasi Rutin Anak pada Masa Pandemi COVID-19, IDAI merekomendasikan agar semua anggota IDAI di daerah PPKM kembali melanjutkan layanan imunisasi, terutama imunisasi kejar secara simultan dengan mempertimbangkan risiko di masing-masing fasilitas kesehatan serta menerapkan protokol kesehatan yang ketat untuk tenaga kesehatan maupun pasien.

IDAI merekomendasikan layanan imunisasi di masa pandemi COVID-19 agar mengikuti Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi Pada Masa Pandemi COVID-19 yang telah disusun sebelumnya oleh Kemenkes bersama IDAI, ITAGI, Komnas KIPI, WHO, Unicef, dan CHAI Indonesia pada Mei 2020.

Layanan imunisasi jika perlu dan memungkinkan dapat menerapkan layanan tanpa turun (lantatur), dan selain imunisasi dokter diminta untuk memprioritaskan telekonsultasi untuk pelayanan kesehatan anak bukan gawat darurat dan melakukan pemantauan telekonsultasi untuk anak-anak yang sedang dalam isolasi mandiri.

GlaxoSmithKline (GSK) sebagai perusahaan perawatan kesehatan global dengan teknologi sains terdepan senantiasa berupaya untuk membantu masyarakat berbuat lebih banyak, merasa lebih baik, dan hidup lebih lama.

"Di masa pandemi seperti saat ini, penting untuk terus melakukan edukasi mengenai pentingnya imunisasi serta meyakinkan orang tua untuk memberikan imunisasi kepada anak-anaknya dengan tetap memperhatikan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)," ujar dr. Deliana.

Terkait PPI, Kementerian Kesehatan dan IDAI telah mengeluarkan Petunjuk Teknis Pelayanan Imunisasi pada Masa Pandemi COVID-19 agar fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tetap melayani imunisasi anak di tengah pandemi.

Empat panduan yang terpenting adalah prinsip jaga jarak fisik, pemberlakuan sistem triase (memisahkan anak yang imunisasi dengan anak yang berobat karena sakit, pengaturan jam kedatangan untuk mencegah kerumunan pasien, sosialisasi bagi orang tua dan anak untuk menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan dengan sabun dan memakai masker di luar rumah. 

Dengan adanya empat panduan untuk mendukung imunisasi yang aman, orang tua dapat kembali melakukan imunisasi yang mungkin terlewatkan atau dibutuhkan oleh anak-anak kita. 

"Memberikan imunisasi lengkap pada bayi dan anak tidak hanya melindungi si anak dari penyakit tertentu tetapi juga membantu tercapainya kekebalan komunitas (herd immunity)," katanya.

"Semakin banyak jumlah anak yang diimunisasi, semakin tinggi pula cakupan imunisasi sehingga anak-anak yang tidak mendapat imunisasi akan tetap terlindungi," kata dr. Deliana.
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021