Wujudkan target ekspor, Kementan-DPR latih petani di tiga kabupaten

id kementan,petani

Wujudkan target ekspor, Kementan-DPR latih petani di tiga kabupaten

Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh (ANTARA/HO-Polbangtan YoMA)

Yogyakarta (ANTARA) - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YoMa) bekerja sama dengan anggota Komisi IV DPR RI melatih petani di Kabupaten Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri, Jawa Tengah, untuk mewujudkan target ekspor produk pertanian.

Kementan melalui Polbangtan YoMa bekerja sama dengan Anggota Komisi IV DPR RI Luluk Nur Hamidah menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh Ke-5, di Kusuma Sahid Prince Solo, Jawa Tengah, Rabu (6/10).

Kegiatan Bimtek Polbangtan YoMa Ke-5 mengambil tema "Peluang Pasar Ekspor Produk Pertanian Indonesia". Bimtek dihadiri Luluk Nur Hamidah (Anggota Komisi IV DPR RI) secara virtual, Siti Maisyaroch (Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Karanganyar).

Selain itu juga dihadiri Hari Edi Soekirno (Atase Pertanian Washington) secara virtual,  Riza Azyumarridha Azra (Founder Rumah Mocaf Indonesia), dan sebanyak 100 petani milenial serta penyuluh pertanian dari Kabupaten Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) menargetkan ekspor produk pertanian Indonesia ke depan bisa bersaing dengan negara lain dalam memperebutkan pasar dunia.

Untuk mencapai hal itu, Kementan terus berinovasi untuk menghasilkan produk yang sesuai standar negara tujuan ekspor sehingga target gerakan tiga kali ekspor (gratieks) bisa terealisasi dengan segera.

"Kementan berharap agar perusahaan-perusahaan besar kita yang menggarap pertanian, tidak hanya berpikir bagaimana ketahanan nasional, tetapi produk-produk ekspor kita harus mampu berkompetisi dan bersaing dengan negara-negara lain di pasar global," kata SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan peningkatan kualitas SDM pertanian, mencetak petani milenial, Duta Petani Milenial (DPM), dan Duta Petani Andalan (DPA) untuk memakmurkan Indonesia ke depan.

"Iklim ekspor kita harus dibuka seluas-luasnya, kami targetkan para petani milenial untuk mengisi dan bersaing pasar ekspor. Jadikan Indonesia lumbung pangan dunia," kata Dedi.

Direktur Polbangtan YoMa Bambang Sudarmanto mengatakan dengan kolaborasi, ekspor produk pertanian sepertinya hanya perlu sedikit sentuhan dan loncatan saja.

"Di sini kita berbicara tidak hanya produk pertanian dari kabupaten untuk pasar domestik, namun juga untuk pasar internasional. Lakukan segmentasi pasar, bangun jejaring untuk ekspor produk, nanti ditindaklanjuti peningkatan kapasitas produksi jika sudah dapat pasarnya," kata Bambang.

Luluk Nur Hamidah mengatakan ilmu dan informasi itu sangat berharga, apalagi jika mau ekspor produk pertanian Indonesia.

"Kami ciptakan situasi, ciptakan suatu sistem, membangun informasi, dan 'market intelligent' agar produk pertanian, produk UKM bisa ekspor ke negara besar seperti Amerika Serikat, yang biasanya diisi oleh para pemain besar," kata Luluk.

Sementara itu, Hari Edi Soekirno mengatakan produk yang diminati oleh masyarakat Amerika Serikat adalah yang praktis, murah, dan sehat.

"Kami dukung ekspor produk pertanian Indonesia, kirim sampel produk ke kami dan akan kami promosikan 'door to door' ke pembeli potensial di Amerika, gratis. Kasih kami peluru-peluru produk anda agar kami perjuangkan di sini," tutur Hari.

Riza Azyumarridha Azra menambahkan bahwa buah segar saat ini sangat potensial untuk dikirim ke Eropa.

"Produk pangan, produk 'ready to eat', kemasan yang menarik, standar mutu, dan perizinan itu perlu diperhatikan agar bisa ekspor. Sebaiknya bangun tim atau kolaborasi dengan berbagai 'stakeholder' agar meringankan kita dalam kegiatan ekspor," kata Riza.
 
Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2021