Prokes disiplin, varian Omicron dapat dicegah

id Omicron, covid-19, Nataru

Prokes disiplin, varian Omicron dapat dicegah

Orang-orang berjalan di lobi kedatangan penerbangan internasional di Bandara Kansai, Prefektur Osaka, Jepang, Selasa (30/11/2021). Jepang melarang masuk semua pendatang baru baru selama setidaknya satu bulan dalam upaya untuk mencegah virus COVID-19 varian Omicron. ANTARA FOTO/Kyodo via Reuters Connect/rwa.

Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara dan Ketua Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) COVID-19 Prof. Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengimbau masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Hal ini diharapkan agar Indonesia bisa mencegah penyebaran COVID-19 varian Omicron menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

"Masyarakat tidak usah khawatir terlalu berlebihan, karena, apapun variannya, selama kita menjalankan protokol kesehatan ketat secara disiplin dan kolektif, seharusnya kita bisa terhindar (dari masuknya varian Omicron ke Indonesia)," kata Wiku di Jakarta, dikutip pada Rabu.



Lebih lanjut, Wiku tak menampik bahwa menjelang libur Natal dan Tahun Baru ini, bisa ada potensi terjadinya mobilitas tinggi dan kelalaian dalam penerapan protokol kesehatan.

"Dan memang dalam Nataru, potensi terjadinya mobilitas yang lebih tinggi, dan mungkin juga masyarakat menjadi tidak terlalu disiplin dalam protokol kesehatan memang ada, dan itu yang harus dicegah, dan jangan sampai terjadi," papar Wiku.

"Jadi, mobilitas harus dijaga, protokol kesehatan harus tetap disiplin, dan pastikan bahwa varian baru dari negara lain tidak masuk ke Indonesia," ujarnya menambahkan.

Wiku melanjutkan, penjagaan wilayah dengan penyaringan (screening) dan karantina juga perlu dilakukan.

"Sehingga betul-betul kita bisa melewati Nataru ini yang tidak kita duga ancamannya bukan hanya (peningkatan mobilitas saat) Nataru saja, tapi juga varian baru. Sehingga, selama kita disiplin, seharusnya tidak ada masalah," ujar dia.

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah memberikan beberapa tindakan yang direkomendasikan untuk dilakukan oleh negara-negara.

Pertama, meningkatkan pengawasan dan pengurutan kasus; berbagi urutan genom pada database yang tersedia untuk umum, seperti GISAID; dan melaporkan kasus atau klaster awal ke WHO.

Lebih lanjut, melakukan penyelidikan lapangan dan penilaian laboratorium untuk lebih memahami jika Omicron memiliki karakteristik penularan atau penyakit yang berbeda, atau berdampak pada efektivitas vaksin, terapi, diagnostik, atau kesehatan masyarakat dan tindakan sosial.

"Negara-negara harus terus menerapkan langkah-langkah kesehatan masyarakat yang efektif untuk mengurangi sirkulasi COVID-19 secara keseluruhan, menggunakan analisis risiko dan pendekatan berbasis sains," kata WHO.

"Mereka harus meningkatkan beberapa kesehatan masyarakat dan kapasitas medis untuk mengelola peningkatan kasus. WHO memberikan dukungan dan panduan kepada negara-negara untuk kesiapan dan tanggapan," imbuhnya.
 
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022