Penataan PKL Malioboro menunggu kesiapan lokasi penempatan

id PKL,Malioboro,penataan,kawasan heritage

Penataan PKL Malioboro menunggu kesiapan lokasi penempatan

Seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) menata dagangannya di Jalan Malioboro, Yogyakarta, Senin (26/7/2021). (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/wsj.)

Yogyakarta (ANTARA) - Proses penataan pedagang kaki lima di sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta terus berjalan termasuk rencana penempatan pedagang di lokasi baru yang akan dilakukan ketika lokasi sudah dinyatakan siap.

“Makanya, kami belum bisa memastikan kapan waktunya. Belum bicara soal itu karena harus melihat dulu bagaimana kesiapan lokasi penempatannya,” kata Wali Kota Yogyakarta Haryadi Suyuti di Yogyakarta, Rabu.

Beberapa lokasi penempatan pedagang kaki lima (PKL) Malioboro di antaranya berlokasi di gedung bekas Bioskop Indra serta gedung Dinas Pariwisata DIY.

Kedua lokasi tersebut, menurut Haryadi diperkirakan mampu menampung seluruh pedagang kaki lima yang berada di sepanjang sisi timur dan barat Jalan Malioboro. Jumlahnya sekitar 1.800 pedagang.

“Tidak ada penggusuran. Tetapi proses yang dilakukan sekarang adalah penataan karena Malioboro akan menjadi kawasan heritage yang memiliki konsekuensi pada penataan PKL,” katanya.

Mengenai penolakan dari pedagang kaki lima terkait rencana relokasi, Haryadi mengatakan siap berkomunikasi untuk mencari alasan penolakan.

“Katanya semua mencintai Yogyakarta. Saya rasa, pedagang bisa memahami alasan relokasi,” katanya.

Ia pun meminta pedagang tidak perlu merasa risau atau khawatir jika lokasi berjualan yang baru akan sepi pengunjung. “Tidak ada maksud membuat tempat berjualan sepi. Tetap akan kami ramaikan. Saya jamin pasti akan tetap ramai,” katanya.

Ia berharap, proses penataan PKL Malioboro tersebut berjalan lancar. “Yang pasti, lokasi penempatannya harus sudah siap terlebih dulu,” katanya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan sosialisasi penataan PKL Malioboro dilakukan oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

“Sudah bertemu dengan beberapa komunitas di Malioboro. Dari laporan sementara, sebagian besar sudah sepakat. Hanya ada satu atau dua yang belum sepakat mengenai waktu pelaksanaannya,” katanya.

Ia berharap, pedagang bisa memahami rencana penataan tersebut karena ditujukan untuk kebaikan bersama dan pemerintah daerah akan berupaya agar lokasi penempatan tetap ramai dikunjungi wisatawan.

“Saya kira, memang butuh penyesuaian dari pedagang karena biasanya berjualan di lorong toko atau di pedestrian, tetapi nanti harus pindah ke lokasi baru,” katanya.

Pemerintah daerah, lanjut Heroe, juga terbuka untuk melakukan evaluasi mengenai pelaksanaan proses penataan tersebut sehingga kondisi PKL dan toko bisa berjalan maksimal.
Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2022