RSI survei kelembagaan tata kelola PWNU DIY jelang kepengurusan berakhir

id Survei pwnu diy

RSI survei kelembagaan tata kelola PWNU DIY jelang kepengurusan berakhir

Direktur RSI Arin Mamlakah Kalamika menyerahkan hasil survei kepada Sekretaris PWNU DIY Muhtar Salim di Kantor PWNU DIY, Kamis (13/1/2022) (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Yogyakarta (ANTARA) - Rumah Survei Indonesia (RSI) melakukan survei kelembagaan tentang tata kelola Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), jelang berakhirnya masa kepengurusan organisasi periode 2016 - 2021 yang ditandai dengan Konferensi Wilayah pada 15 Januari 2022.

"Hasil survei ini diharapkan dapat menjadi evaluasi bagi kepengurusan yang sekarang maupun yang akan datang agar dapat bekerja secara maksimal dan lebih baik dalam melakukan pemberdayaan pada warga Nahdliyin dan masyarakat Yogyakarta pada umumnya," kata Direktur RSI, Arin Mamlakah Kalamika di PWNU DIY, Kamis.

Sekadar informasi, PWNU DIY akan mengadakan Konferensi Wilayah (Konferwil) ke XV di Pondok Pesantren A1-Furqon Desa Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, DIY pada 15 Januari 2022. Konferwil merupakan forum pertemuan tertinggi pengurus NU di tingkat provinsi.

Salah satu agenda dalam Konferwil itu adalah pergantian kepengurusan PWNU DIY masa bakti periode 2016-2021, yang seharusnya sudah berakhir pada 2021, namun karena adanya pandemi COVID-19, maka masa kepengurusan diperpanjang hingga 15 Januari 2022.

Arin mengatakan, survei RSI dilaksanakan selama dua bulan, dimulai dari perencanaan, merumuskan desain, pengumpulan data, pengolahan data, sampai penyusunan laporan hasil survei. Survei menggunakan pendekatan evaluatif dengan jenis eksplanatori, dan pengambilan sampling menggunakan teknik 'purposive sampling'.

"Desain evaluatif mengacu kepada konsep Good Corporate Governance (GCG) untuk memperoleh gambaran praktek pengelolaan organisasi yang amanah dan prudensial dengan mempertimbangkan keseimbangan pemenuhan kepentingan seluruh stakeholder,"kata Arin.

Dia menjelaskan, terdapat lima variabel untuk mengukur hal tersebut, meliputi aspek akuntabilitas, responsibilitas, independensi, fairness, dan transparansi.

Responden dalam survei ini dipilih atas dasar hubungan terdekat dengan pengurus PWNU DIY, mereka adalah para pengurus harian dari lembaga-lembaga dan badan otonom yang menjadi bagian dari kepengurusan PWNU DIY, dan para pengurus harian dari Pengurus Cabang NU (PCNU) seluruh kabupaten/kota di DIY.

Diantara temuan penting dari survei RSI adalah tentang upaya peningkatan akuntabilitas organisasi PWNU DIY periode 2016-2021 dilihat dari sisi ketersediaan instrumen pengelolaan program kerja.

"Di samping itu, perlunya pengurus PWNU yang akan datang untuk membuat instrumen evaluasi kelembagaan sebagai upaya untuk mengevaluasi diri terkait dengan kekurangan-kekurangan dalam mengelola program organisasi," katanya.

Menurut dia, dari angka yang didapatkan dari hasil survei, pengurus PWNU DIY ke depan perlu menyusun periodisasi program kerja yang dilaksanakan secara konsisten dalam bentuk program jangka pendek, menengah, dan panjang.

"Dari hasil survei yang sudah dilaksanakan, PWNU DIY harus bisa menjadi 'role' model, serta selalu menghadirkan inovasi baru. Sebab PWNU DIY ini spesial, karena berada di tengah 'tetangga' yang sangat kuat, baik Muhammadiyah maupun Kraton," katanya.

Dia menambahkan, "Relasi ini harus menjadi point of view, bagaimana PWNU DIY yang lebih inklusif, harus menjadi role model bagi PWNU lainnya dari konteks toleransi, serta leading sektor karena Allah menganugerahi kami dengan (PWNU DIY) dengan relasi yang spesial," katanya.

Dia juga mengatakan, dari salah satu poin hasil survei RSI ini, evaluasi dan pengelolaan organisasi dan program kerja PWNU perlu ditingkatkan. Sementara pelaksanaan program kerja dan kerja sama antara pengurus PWNU dengan Lembaga, Banom dan PCNU sudah cukup baik.

Sementara itu, Sekretaris PWNU DIY Muhtar Salim mengatakan, apresiasi kepada lembaga survei yang telah melakukan kegiatan ini, sehingga kinerja keorganisasian dapat terukur efektifitasnya. 

"Dengan demikian kami bisa menyiapkan strategi dakwah dan strategi pendidikan yang pas serta sesuai dengan perkembangan zaman," katanya.
Pewarta :
Editor: Hery Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2022