Logo Header Antaranews Jogja

Polbangtan Kementan gelar Seminar Nasional Perbenihan tingkatkan ketahanan pangan

Kamis, 21 Juli 2022 22:55 WIB
Image Print
Program Studi Teknologi Benih Polbangtan YoMa Kementan menggelar Seminar Nasional Perbenihan (ANTARA/HO-Polbangtan YoMa)

Yogyakarta (ANTARA) - Program Studi Teknologi Benih Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Yogyakarta Magelang (YoMa) Kementerian Pertanian menggelar Seminar Nasional Perbenihan untuk meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Siaran pers dari Polbangtan YoMa yang diterima di Yogyakarta, Kamis, menyebutkan seminar nasional bertema "Peran Perbenihan dalam Membangun Ketahanan Pangan Nasional" itu menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi.

Benih, menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin limpo (SYL), memegang peran penting dalam meningkatkan produktivitas pangan seperti beras sebagai salah satu pangan pokok strategis di Indonesia dan mendukung ekspor beras.

"Tanpa benih varietas unggul, kita tidak akan bisa surplus beras seperti yang kita bisa rasakan saat ini sehingga tidak perlu impor beras lagi. Jadi peningkatan produktivitas beras harus jadi tantangan kita bersama karena beras sangat penting bagi kehidupan bangsa," ucap Mentan SYL.

Sementara, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi mengatakan bahwa bukan hanya penggunaan benih unggul saja yang perlu didorong, namun lebih dari itu pihaknya mengharapkan SDM Pertanian khususnya mahasiswa vokasi pertanian mampu berinovasi di bidang tersebut.

"Benih unggul itu vital, SDM Pertanian kita harus mampu menciptkan inovasi dan terobosan di bidang tersebut, ini salah satu kunci kemandirian pertanian Indonesia agar berdaya saing," ujarnya.

Wakil Direktur II Polbangtan YoMa Akimi mengapresiasi gelaran seminar nasional ini. "Program Studi Teknologi Benih merupakan salah satu prodi yang paling berkomitmen menunjukkan keeksisannya di bidang pertanain. Saya berharap setiap prodi di Polbangtan YoMa mampu mengembangkan keilmuannya untuk berkontribusi dalam pembangunan pertanian," katanya.

Ia juga berharap melalui seminar ini hasil-hasil penelitian akademis dapat dipaparkan dan menjadi langkah praktis dalam pengembangan benih unggul. "Melalui forum ini hasil-hasil penelitian dosen dapat didesiminasikan sekaligus didiskusikan untuk kemudian menjadi langkah praktis, langkah nyata dalam kontribusi pengembangan perbenihan," katanya.

Guru Besar Departemen Agronomi Hortikultura IPB University Prof Sobir, yang hadir sebagai salah satu narasumber mengatakan bahwa tujuan utama pembangunan pertanian yaitu untuk meningkatkan kemandirian pangan yang berkelanjutan, menciptakan daya saing ekspor, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan, namun tantangan pertanian juga semakin hebat sehingga membutuhkan terobosan inovasi.

"Konsumsi yang terus meningkat, krisis iklim, dan penurunan keragaman sumberdaya genetik menjadi tantangan pemenuhan pangan nasional Indonesia bahkan dunia belakangan ini. Padahal diperkirakan pada tahun 2045 akan ada 150 juta orang tambahan di Indonesia yang perlu diberi makan," ujar Sobir.

Penggunaan benih varietas unggul dan benih berkualitas, kata Sobir, merupakan salah satu solusi yang sudah teruji dari permasalahan tersebut.

"Contohnya sekarang kita berhasil tidak impor beras 3 tahun, itu karena kita menggunakan varietas unggul dan berkualitas meski luas lahan kita semakin menurun. Luas tanam kita saat ini hanya sekitar 10-13 juta hektare, jika tanpa inovasi perbenihan, normalnya akan butuh 35 juta hektare untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Dengan benih bermutu kita jadi bisa mandiri pangan meski dengan lahan terbatas," katanya.

Pada akhir materi, Sobir juga menyatakan bahwa industri benih merupakan lapangan kerja yang luas. "Ada yang menguasai dari hulu sampai hilir, yaitu perakitan, produksi, sampai peredaran atau hanya bergerak pada 1 sampai 2 bidang saja. Artinya kita bisa berperan di mana-mana. Ibarat produk fashion, ada yang berperan sebagai desainer atau perakit dan garmen atau produsen benih," katanya.

Pemateri lainnya hadir dari kalangan praktisi industri benih terkemuka di Indonesia yaitu Dudin Supti, yang membawakan materi berjudul "Produksi Benih Bermutu untuk Indonesia Emas 2045".

Ia mengatakan bahwa setidaknya ada 3 pilar dalam industri benih. "Industri benih yang kuat setidaknya mengedepankan 3 pilar yaitu Riset, Proses Produksi, dan Selling atau Marketing," ujar Dudin.

Ia menambahkan bahwa riset dan pengembangan merupakan nyawa industri benih, pasalnya melalui riset inilah nantinya tercipta benih-benih unggul yang tersertifikasi. "Dalam menghasilkan inovasi, salah satunya kami melakukan riset seperti mapping hama penyakit dan tanaman serta mapping iklim dan cuaca di Indonesia, sehingga kami bisa merakit benih yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik yang ada," katanya.

Selain dituntut menghasilkan benih yang unggul dan tersertifikasi, industri benih juga mendapat tantangan lain yang tidak kalah pelik. Tantangan industri benih salah satunya munculnya "production waste loss" atau sisa produksi yang menjadi sampah dan tidak dipergunakan bisa mencapai 1/3 dari bahan baku.

"Contohnya saat memproduksi benih labu, yang diambil benihnya saja, dagingnya tidak dipergunakan sampai berton-ton. Ini yang kami kerja samakan dengan lembaga pendidikan atau pihak lainnya untuk mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat seperti tepung labu contohnya," kata dia.

Selain dua pemateri tersebut, pada kesempatan ini juga hadir tiga pemateri lainnya dari internal Polbangtan YoMa yaitu Agus Wartapa, Elea Nur Azizah, dan Suharno yang membawakan materi tentang perkaitan benih unggul hingga teknik penanaman benih unggul untuk dapat meningkatkan produktivitas.

Elea mengatakan bahwa industri benih salah satu modalnya adalah kepercayaan.

"Ketika menjual benih kepada petani, harus ada jaminan bahwa benih tersebut benar-benar bermutu sehingga benih harus didaftarkan. Bukan hanya melindungi hak cipta, tapi ini juga wujud tanggung jawab kita dalam upaya melindungi petani dari peredaran benih-benih palsu," kata Elea.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026