
Ini kiat tanpa utang, tapi hidup "happy"

JAKARTA (ANTARA) - Bersenang-senang merupakan salah satu kebutuhan rohani untuk mengobati kelelahan jasmani akibat padatnya pekerjaan atau rutinitas harian. Namun tanpa kemampuan kontrol diri, bisa jadi acara bersenang-senang berujung pada tagihan utang yang menggunung. Padahal, membiayai gaya hidup (minus gengsi) bisa disiasati tanpa menimbulkan lilitan utang.
Tidak harus menjadi orang dengan banyak uang untuk dapat hidup senang. Kesenangan bisa diciptakan dengan versi sendiri masing-masing pribadi. Yang kerap menjadi masalah adalah ketika seseorang mengikuti gaya bersenang-senang orang lain, sementara kemampuan finansialnya berbeda.
Bersenang-senanglah dengan berkaca pada ketersediaan dana yang ada, bukan diusahakan ada dan terpaksa mengorbankan kebutuhan lain yang lebih penting. Apalagi sampai menempuh cara berutang.
Penggunaan kartu kredit dan metode pembayaran tunda (pay later) adalah contoh cara berutang yang elegan, tidak "sehina" semisal meminjam uang kepada saudara atau tetangga.
Rumus pengelolaan keuangan
Berapa pun besarnya penghasilan Anda bila tidak dikelola dengan tertib bisa berdampak pada kebangkrutan. Pengelolaan menjadi kunci keberlangsungan dan kesehatan keuangan seseorang atau sebuah keluarga.
Menurut ahli perencanaan keuangan, Eric Roberge, CFP, mengelola penghasilan bisa dilakukan dengan fleksibel karena keuangan tiap orang berbeda.
“Kuncinya adalah mengambil tindakan dan menggunakan sistem untuk membantu Anda tetap konsisten dalam mengelola uang setiap bulan, dan memastikan Anda dapat mengatur pengeluaran, bisa menabung untuk esok, dan memberi Anda ruang untuk menikmati hidup hari ini, “ kata pendiri Beyond Your Hammock, perusahaan perencanaan keuangan virtual asal Boston, AS itu.
10 persen – Kebaikan
Berapa pun penghasilan Anda -- besar atau kecil -- usahakanlah untuk selalu berbuat kebaikan. Definisi berbuat kebaikan amat luas, tidak terbatas hanya pada memberikan donasi di tempat ibadah, tapi juga hal lain seperti berbakti kepada orang tua dan memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan.
20 persen – Masa depan
Termasuk di dalamnya anggaran untuk asuransi, investasi, dan dana darurat. Dalam konteks keuangan, persiapan untuk masa depan mencakup dana darurat, asuransi jiwa dan kesehatan, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana untuk uang muka rumah (bagi yang belum memiliki), mengembangkan kekayaan, dan dana untuk berbagai tujuan keuangan lainnya.
30 persen – Cicilan produktif
Sepanjang utang dan cicilan yang Anda miliki adalah untuk pembelian aset yang sifatnya produktif, menunjang pekerjaan, dan besarnya cicilan per bulan tidak melebihi 30 persen dari penghasilan, maka masih bisa dikatakan wajar. Contohnya, cicilan rumah, kendaraan, atau peralatan untuk kebutuhan wajib. Untuk rumah dengan status sewa juga bisa dimasukkan dalam alokasi ini.
40 persen – Kebutuhan hidup
Persentase ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari termasuk biaya makan, minum, transportasi, tagihan listrik, air, telepon, pulsa telepon, langganan televisi, keanggotaan olahraga, hobi, pakaian, rekreasi dan sebagainya.
Yang terlarang
Tekor, terlilit utang, atau dikejar-kejar debt collector merupakan kasus yang banyak terjadi di tengah masyarakat. Menjadi ironis bila hal itu ditimbulkan akibat pembiayaan gaya hidup dan membeli gengsi. Biaya gaya hidup masih relatif bisa dihitung dan dianggarkan, namun manakala sudah dirasuki unsur gengsi maka tidak bisa diukur berapa jumlah uang yang dibutuhkan untuk menjangkau itu.
Sebelum Anda mengalami keruntuhan ekonomi, beberapa hal berikut sebaiknya dihindari:
1. Update
Gawai, perangkat elektronik, dan kendaraan adalah barang-barang yang memang perlu diperbarui secara berkala ketika terjadi kerusakan atau turunnya performa fungsionalnya. Artinya, membeli atau memperbarui barang-barang tersebut haruslah atas alasan urgensi bukan gengsi, dan titik tekannya terletak pada fungsi.
2. Membanding-bandingkan
Gemar melirik harta benda tetangga atau rekan-rekan kerja lalu membandingkan dengan yang dimiliki, kemudian merasa iri dan ingin menyaingi merupakan cikal-bakal perilaku konsumtif yang kelak sulit dihentikan.
3. Pengabdi gengsi
Tidak perlu mengabdi pada gengsi apalagi jika harta Anda masih bisa dihitung atau tidak tak terbatas. Harga sebuah gengsi amatlah mahal untuk orang yang masih hidup dengan gaji, dari bulan ke bulan berikutnya.
Ambisi untuk meraih gengsi akan menghilangkan kesadaran seseorang dalam membelanjakan uangnya dengan kadar yang tidak wajar. Gengsi yang berkerabat dekat dengan kebutuhan akan pengakuan dapat membuat orang mengerahkan segala upaya untuk membiayai gaya hidup agar bisa “seperti orang-orang”.
Versi sendiri
Setiap individu memiliki kemampuan finansial sendiri yang tentu berbeda dengan daya beli orang lain. Karenanya, jangan sekali-kali berkiblat pada orang lain dalam hal gaya hidup utamanya kebutuhan rekreasi.
Rekreasi atau bersenang-senang pada umumnya bisa berupa tamasya (travelling), wisata belanja dan kuliner, menonton acara hiburan, juga perawatan diri dapat dimasukkan dalam kategori ini
1. Wisata dalam negeri
Biarlah orang-orang yang kerepotan untuk menghabiskan uang yang pelesiran ke luar negeri. Bagi masyarakat kebanyakan, yang masih repot mengatur keuangan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, masih bisa berwisata di dalam negeri.
2. Belanja produk lokal
Telah banyak jenama produk lokal yang mampu menembus pasar global. Akan sangat disayangkan jika masyarakat Indonesia sendiri kurang mengapresiasi dengan cara membelinya. Selain

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Cara hidup bersenang-senang tanpa berutang
Pewarta : Sizuka
Editor:
Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
