Logo Header Antaranews Jogja

Dinkes DIY memperkuat peran kader Posyandu tekan stunting

Senin, 10 Juli 2023 17:47 WIB
Image Print
Arsip Foto. Warga membawa anak mereka untuk mendapatkan imunisasi di posyandu di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Kamis (8/7/2021. Kegiatan posyandu antara lain mencakup pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak serta penyuluhan gizi untuk mencegah kasus stunting. (ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/foc)

Yogyakarta (ANTARA) - Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta memperkuat peran kader Posyandu di lima kabupaten/kota untuk menyosialisasikan pola hidup sehat kepada masyarakat untuk menekan angka stunting di provinsi ini.

"Kader Posyandu memiliki peran penting menjangkau masyarakat di desa sehingga kecakapan mereka akan kami perkuat," kata Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes DIY Endang Pamungkasiwi di Yogyakarta, Senin.

Menurut Endang, dari total 5.375 Posyandu di DIY masing-masing memiliki lima orang kader yang bertugas mempromosikan kesehatan.

Para kader yang dibentuk di masing-masing desa, kata dia, harus memiliki sejumlah kompetensi, mulai dari edukasi ASI Eksklusif dan makanan pendamping ASI kaya protein hewani sesuai umur balita, hingga kemampuan menerapkan komunikasi antar pribadi.

"Mereka berperan memantau tumbuh kembang anak di Posyandu, serta mendampingi keluarga berisiko stunting," kata dia.

Untuk mempercepat penurunan stunting nasional, kata dia, Kementerian Kesehatan sedang melakukan upaya transformasi kesehatan dengan menyiapkan penguatan pelayanan primer.

"Mulai dari Posyandunya. kemudian di tingkat desa nanti akan dibuat semacam Puskesmas pembantu (Pustu) untuk pendekatan askes pelayanan kesehatan, baru kemudian ke Puskesmas," kata dia.

Baca juga: Dinkes DIY menangani kasus stunting dengan pendekatan siklus kehidupan
Baca juga: Kasus anemia disebut berisiko pengaruhi angka stunting di DIY

Selain kader Posyandu, menurut dia, seluruh desa di DIY telah memiliki Tim Percepatan Pengurangan Stunting (TPPS) yang bertugas melakukan intervensi kesehatan dan non-kesehatan, antara lain terkait pemberian makanan tambahan, pemberian tablet atau multivitamin, serta pelayanan kesehatan lain.

Munculnya anak berisiko stunting, kata dia, melewati siklus yang panjang, bahkan pemicunya dimulai saat calon ibu masih remaja atau belum menikah.

Karena itu, untuk menekan angka stunting, Kanwil Kementerian Agama DIY juga mengoptimalkan program bimbingan pranikah bagi remaja usia sekolah dengan menggandeng seluruh guru bimbingan konseling (BK) yang tahun ini menyasar madrasah aliah di lima kabupaten dan kota di provinsi tersebut.

Berdasarkan data Dinkes DIY, kata dia, prevalensi kasus stunting di DIY pada 2019 mencapai 21,04 persen, kemudian menjadi 17,3 persen pada 2021, dan kembali menurun pada 2022 menjadi 16,4 persen.

Endang optimistis dengan berbagai upaya pendekatan bidang kesehatan maupun edukasi akan mampu menekan angka stunting di DIY hingga mencapai 14 persen pada 2024 sesuai target dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2021.



Pewarta :
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026