Logo Header Antaranews Jogja

Disperindag Sleman sosialisasi gerakan olah sampah pada pedagang pasar

Jumat, 25 Agustus 2023 19:52 WIB
Image Print
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo saat sosialisasi gerakan "Olah dan Bersihkan Sampah" atau "Obah" kepada pedagang pasar tradisional yang diselenggarakan Disperindag Sleman di Pasar Tempel, Jumat (25/8/2023). ANTARA/HO-Bagian Prokopim Setda Sleman

Sleman (ANTARA) - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, melakukan sosialisasi gerakan "Olah dan Bersihkan Sampah" atau "Obah" kepada pedagang pasar tradisional di wilayah itu.

Sosialisasi tersebut digelar sebagai upaya optimalisasi pengelolaan sampah terutama di pasar tradisional tersebut diawali di Pasar Tempel yang dihadiri Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo, Jumat.

Kustini Sri Purnomo mengatakan bahwa Kabupaten Sleman merupakan penyumbang sampah terbanyak di TPA Piyungan, Bantul yaitu 320 ton per hari.

"Ini karena Kabupaten Sleman memiliki penduduk terbanyak di DIY yaitu 1,1 juta jiwa ditambah dengan 300.000 pendatang," katanya.

Menurut dia, aktivitas pasar pun tidak luput dari perhatian karena menjadi salah satu penyumbang sampah di Kabupaten Sleman.

"Diharapkan agar para pedagang di sini dapat memilah-milah sampah baik itu kertas, plastik, maupun sampah organik," katanya.

Ia mengatakan, para pedagang dan pembeli tidak dilarang menggunakan plastik, tetapi menyarankan agar mengurangi penggunaan plastik di pasar. Peran para pedagang maupun pembeli untuk memanfaatkan tas belanja akan sangat berharga untuk mencegah adanya timbunan sampah di Kabupaten Sleman.

:Akan lebih baik jika sampah-sampah plastik dapat didaur ulang atau dimanfaatkan menjadi barang yang lebih berguna. Diharapkan pedagang dapat menunjukkan bahwa Sleman itu kabupaten yang sehat dan bersih serta memiliki warga yang peduli kepada lingkungan," katanya.

Kustini menegaskan agar para pedagang di Pasar Tempel dapat menjadi pioner untuk pemilahan sampah di pasar dan bisa saling mengingatkan untuk tidak membuang sampah sembarangan.

"Juga jangan sampai membakar sampah plastik karena asapnya berbahaya bagi kesehatan," katanya.

Haryadi, praktisi lingkungan yang memberi pelatihan pengelolaan sampah kepada pedagang Pasar Tempel membenarkan bahwa asap yang dihasilkan dari pembakaran sampah plastik mengandung racun yang berbahaya bagi kesehatan terutama paru-paru.

"Untuk mencegah pembakaran maupun pembuangan sampah sembarangan, masyarakat dapat menggunakan alat makan dan minum pribadi, menggunakan tas belanja, membatasi penggunaan kantong plastik, membuat lubang biopori, hingga membentuk bank sampah," katanya.

Menurut dia, setiap lapisan masyarakat dapat melakukan pemilahan dan daur ulang sampah secara mandiri baik itu sekolah, kampus, kantor, hingga permukiman.

"Ada beberapa manfaat yang bisa kita rasakan sendiri jika mengelola sampah, seperti mengurangi pencemaran udara akibat pembakaran sampah hingga membantu menciptakan lingkungan yang sehat dan bersih," katanya.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026