Logo Header Antaranews Jogja

Peneliti: Anak lebih rentan terhadap polusi udara

Minggu, 17 September 2023 13:25 WIB
Image Print
Anak memakai masker (ANTARA/HO-Danone)

Yogyakarta (ANTARA) - Peneliti studi "The Notorious Triumvirate in Pediatric Health: Air Pollution, Respiratory Allergy, and Infection" Prof. Dr. dr. Anang Endaryanto, SpA(K), MARS mengatakan anak-anak lebih rentan terhadap polusi udara, karena secara fisiologis, organ tubuh mereka seperti otak dan paru-paru masih dalam tahap pertumbuhan.

"Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap masalah kesehatan akibat polusi udara. Di lingkungan yang kurang bersih, anak-anak akan lebih banyak terpapar polusi udara, terutama karena mereka sering berada di luar ruangan," kata Anang Endaryanto dalam siaran pers yang diterima di Yogyakarta, Minggu.

Meskipun pengaruh langsung polusi udara terhadap alergi pernapasan masih dalam penelitian, angka gangguan alergi pernapasan dan infeksi pada anak tetap tinggi di daerah dengan tingkat polusi yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh polusi udara yang memicu reaksi peradangan yang memperburuk alergi pernapasan.

Penelitian terbaru lainnya bertajuk "The Impact of Air Pollution on Gut Microbiota and Children's Health: An Expert Consensus" menunjukkan bahwa polusi udara dapat mempengaruhi kesehatan anak secara langsung melalui tiga jalur, yaitu jalur perkembangan saraf, kekebalan tubuh, dan kardiometabolik.

Hal tersebut dapat terjadi karena polutan udara yang tertelan dapat menyebabkan disbiosis atau ketidakseimbangan mikrobiota usus, sehingga dapat memicu respons sistem imun yang menimbulkan reaksi alergi pada anak. Partikel polutan udara dapat mempengaruhi sel epitel yang merupakan lapisan pelindung usus, baik secara langsung maupun setelah diserap oleh mikrobiota usus.

"Kedua proses tersebut dapat menyebabkan melemahnya lapisan pelindung usus. Hal ini memungkinkan kuman bakteri dan polutan dari udara menembus lebih dalam ke lapisan dinding usus. Akibatnya, interaksi yang lebih aktif di antara sel-sel imun dan memicu peradangan, sehingga mengubah komposisi mikrobiota usus agar lebih sesuai dengan perubahan lingkungan di pencernaan," katanya.

Sebagai salah satu peneliti dalam studi "The Notorious Triumvirate in Pediatric Health: Air Pollution, Respiratory Allergy, and Infection" dan Medical & Scientific Affairs Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK mengatakan anak-anak belum memiliki pertahanan terhadap polusi udara, sehingga peran orang tua sangat penting dalam melindungi mereka.

Gangguan keseimbangan mikrobiota usus pada anak bisa memicu respons sistem kekebalan yang menyebabkan alergi, terutama akibat polusi udara. Oleh karena itu, para ahli merekomendasikan intervensi untuk menjaga kesehatan anak di tengah polusi, seperti memberikan makanan bernutrisi yang mengandung probiotik dan prebiotik untuk kesehatan pencernaan anak yang dapat mendukung daya tahan tubuhnya.

Probiotik dan prebiotik merupakan salah satu asupan makanan yang dapat menunjang perkembangan dan keseimbangan mikrobiota untuk meningkatkan kesehatan tubuh. Probiotik serta prebiotik berfungsi mendukung keseimbangan mikrobiota usus anak dan membantu memulihkan bakteri baik yang terganggu oleh dampak polusi udara.

Menurut dia, orang tua di Indonesia perlu lebih menyadari akan pentingnya melindungi kesehatan anak dari polusi udara dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat. Anak-anak belum dapat melindungi diri mereka sendiri dari ancaman polusi di sekitarnya.

"Jadi, orang tua perlu melakukan upaya pencegahan dengan salah satunya memastikan asupan nutrisi yang dapat mendukung sistem kekebalan tubuh anak, sehingga mereka bisa tetap sehat dan tumbuh secara maksimal menjadi anak generasi maju," kata Ray.



Pewarta :
Editor: Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026