
Timo Scheunemann: Liga sepak bola putri jangan terlalu banyak tim

Jakarta (ANTARA) - Pelatih sepak bola profesional Timo Scheunemann menekankan pentingnya desain liga sepak bola putri yang realistis dan berkelanjutan, dengan jumlah tim yang tidak terlalu banyak. Ia menyarankan agar liga profesional hanya diikuti oleh delapan tim dari delapan kota dan dikaitkan dengan institusi pendidikan tinggi, demi menjamin kesinambungan pemain dan dukungan dari keluarga.
“Saya justru melihat kalau idealnya liga pro itu tidak usah banyak tim, misalnya delapan kota saja, dan dihubungkan dengan universitas. Jadi mereka main pro sekaligus main di tim universitas. Jadi ada liga universitasnya, tapi juga ada liga pro-nya dengan pemain yang kira-kira hampir sama gitu,” ujar Timo kepada Antara di Kong Soccer Arena, Jakarta, Minggu (5/5).
Menurutnya, dengan adanya jalur pendidikan yang menyatu dengan karier sepak bola, para orang tua akan lebih mudah memberikan restu bagi anak perempuan mereka untuk menekuni olahraga ini.
“Orang tua lebih mungkin mendukung anaknya jika ada jaminan pendidikan. Jadi mereka bisa melihat sepak bola sebagai jalur ke universitas,” lanjutnya.
Skema ini juga dianggap lebih relevan dengan konteks sosial di Indonesia, di mana banyak atlet perempuan menikah di usia muda dan mulai menghadapi prioritas hidup yang lain. Timo menilai kompetisi panjang yang berjalan setiap pekan cenderung tidak cocok.
Baca juga: Piala Pertiwi U-14 dan U-16 untuk cetak bintang Liga 1 Putri 2027
“Kalau perempuan tidak realistis seperti itu (liga rutin bergulir setiap pekan), karena kita juga harus lihat semuanya itu ada faktor ekonomi kan. Dan kalau putri biasanya juga, apalagi di Asia, umur 25 udah menikah dan sebagainya,” ungkapnya.
Saat ini, PSSI tengah mempersiapkan Piala Pertiwi untuk kelompok usia 14 dan 16 tahun sebagai pondasi menuju Liga 1 Putri yang direncanakan bergulir pada 2027. Indonesia terakhir kali menyelenggarakan liga putri pada 2019, dengan Persib Putri keluar sebagai juara.
Meski minim kompetisi, timnas putri berhasil menorehkan sejarah dengan menjuarai Piala AFF pada Desember 2024. Namun, Timo mengingatkan bahwa prestasi di tingkat atas tidak bisa dilepaskan dari pembinaan akar rumput.
Ia menyebut bahwa fase emas pembinaan pemain terjadi pada usia 10 hingga 12 tahun. Anak-anak di usia ini, menurutnya, idealnya berlatih dua hingga tiga kali seminggu dan menjalani satu laga pertandingan. Bagi yang berbakat lebih, intensitas bisa ditingkatkan hingga empat kali latihan per minggu.
“Latihan bersama itu penting, tapi latihan individual jauh lebih penting di usia segitu,” tegasnya.
Baca juga: Piala Pertiwi, upaya PSSI tingkatkan ekosistem grassroots sepak bola putri
Untuk sepak bola putri, ia mengakui bahwa sistem antar-Sekolah Sepak Bola (SSB) masih sulit karena jumlah SSB putri yang sangat sedikit. Karena itu, ia memilih membangun ekosistem dari sekolah dasar.
“Oleh karena itu, kami membangun ekosistem sepak bola putri melalui sekolah. Kami turun langsung ke SD, memberikan pemahaman dan menunjukkan manfaat partisipasi di kompetisi ini,” katanya.
Timo kini aktif bersama Bakti Olahraga Djarum Foundation, mengembangkan turnamen usia dini khusus putri dan sudah dua tahun fokus mengelola pelatihan di bawah yayasan tersebut. Diharapkan, pendekatan ini dapat memunculkan bibit baru yang tertarik masuk SSB dan menapaki jenjang profesional.
Menurutnya tantangan tidak berhenti di situ. Ia menyebut bahwa dukungan orang tua sangat dipengaruhi oleh hadirnya sosok idola yang menginspirasi—dan tetap merepresentasikan sisi feminin dari perempuan atlet.
“Kayak pemain-pemain seperti Shafira Ika, main bola tapi cantik ya. Terus kayak Claudia, keponakan saya, dia jago main, terus atletis gitu ya. Terus kan tetap feminin, tetap ceweknya cewek banget gitu kan. Jadi mereka bisa ngeliat, oh iya ini, itu penting kenapa? Buat anak-anak dan orang tuanya itu bisa punya idola yang asik gitu, yang tidak negatif gitu,” terang Timo.
“Anak-anak perlu melihat bahwa bermain bola tidak membuat mereka kehilangan sisi feminin. Itu penting untuk menghapus stigma,” pungkasnya.
Baca juga: Dua tim muda putri Indonesia tampil dominan di JSSL 2025 Singapura
Baca juga: Dua tim putri Indonesia sukses awali JSSL Singapore 7's 2025 dengan hasil apik
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Timo Scheunemann sarankan liga putri tidak terlalu banyak tim peserta
Pewarta : A Rauf Andar Adipati
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
