
Wamenekraf gali potensi Gedung Agung Yogyakarta untuk kolaborasi ekonomi kreatif

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamen Ekraf) Irene Umar menggali potensi kolaborasi antara seni, budaya, dan ekonomi kreatif di ruang-ruang bersejarah dalam kunjungannya ke Istana Kepresidenan Yogyakarta, yang juga dikenal dengan Gedung Agung.
"Gedung Agung bukan hanya situs sejarah, tapi juga ruang publik yang hidup. Kita bisa manfaatkan tempat ini sebagai panggung diplomasi budaya, pameran seni, residensi kreatif, atau laboratorium edukasi lintas generasi,” kata Irene dalam keterangan pers yang diterima, Senin.
Wamen Ekraf Irene menyebut kunjungan ini sebagai langkah konkret dalam mendorong aktivasi ruang publik berbasis nilai lokal dan warisan budaya untuk mendukung ekosistem ekonomi kreatif yang lebih inklusif.
Irene juga berdiskusi bersama pengelola istana, membahas peluang aktivasi ruang yang tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga fungsional.
Bersama Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Deni Mulyana, Irene menjajaki kemungkinan kolaborasi ke depan mulai dari program residensi seni, aktivasi konten edukatif berbasis museum, hingga penguatan diplomasi budaya melalui karya-karya kreatif berbasis nilai lokal.
Dibangun tahun 1824, gedung ini pernah menjadi kediaman Presiden Soekarno saat Yogyakarta menjadi ibu kota sementara (1946–1949). Gedung Agung juga telah menyambut lebih dari 65 kepala negara, termasuk Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles.
Pewarta : Fitra Ashari
Editor:
Eka Arifa Rusqiyati
COPYRIGHT © ANTARA 2026
