Logo Header Antaranews Jogja

Musibah Al-Khoziny dalam sorotan kuantitas dan kualitas

Kamis, 9 Oktober 2025 13:06 WIB
Image Print
Keluarga korban meratapi peti jenazah korban runtuhnya bangunan mushala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, di Rumah Sakit Bhayangkara H.S. Samsoeri Mertojoso, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (7/10/2025). Pada Selasa (7/10) Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur berhasil mengidentifikasi 17 jenazah korban runtuhnya bangunan mushala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, untuk selanjutnya diserahkan kepada keluarganya. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/foc.

Surabaya (ANTARA) - Musibah runtuhnya mushalla santri putra di Pondok Pesantren (PP) Al-Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, saat Shalat Asar berjamaah pada Senin (29/9/2025) sore, menuai sorotan dalam persimpangan "dua dunia".

"Dua dunia" yang menyoroti dalam persimpangan itu adalah dunia pesantren dan dunia digital.

Pesantren Al-Khoziny ada dalam "dunia pesantren" yang memiliki tradisi yang sangat tradisional atau mengakar lama/kuno dan sederhana. Sebaliknya, dunia digital memiliki basis teknologi yang menonjolkan pemikiran, logika/rasional dan modernitas di dunia maya, sehingga "dua dunia" itu memiliki pandangan yang terkadang saling berseberangan untuk topik/isu yang sama, atau ada persimpangan.

Misalnya, tradisi Ro'an (kerja bakti bergotong royong) di lingkungan pesantren yang dinilai masyarakat pesantren sebagai salah satu pendidikan karakter yang mengajarkan gotong-royong, persatuan, kebersamaan, kemandirian, dan jiwa sosial-kemanusiaan.

Tidak hanya menumbuhkan karakter mulia, tapi tradisi Ro'an juga seringkali justru ditunggu-tunggu para santri atau wali santri serta alumni santri untuk membantu pesantren guna "tabarrukan" (meraih keberkahan dalam hidup melalui pengabdian/khidmat kepada pesantren).

Tradisi tabarrukan yang hampir ada di semua pesantren itu mengajarkan bahwa mengaji saja tidak cukup, sekolah saja tidak cukup, pandai saja pun tidak cukup. Semua kemampuan dan kecakapan yang dimiliki para santri harus disempurnakan dengan keberkahan yang dilimpahkan dan melingkupi kehidupan mereka.

Masalahnya, makna positif dari tradisi pesantren tradisional itu bisa dianggap sebagai eksploitasi santri dari sudut pandang dunia digital, sehingga diviralkan ke seantero jagat sebagai kritik terkait pelibatan anak-anak dalam pembangunan. Dalam hal ini, ada persimpangan sudut pandang yang sangat jauh berbeda.

Baca juga: DIY menyiapkan rapergub pastikan keamanan bangunan pesantren

Contoh lain adalah ketika mencari siapa yang bertanggung jawab dalam musibah meninggalnya puluhan santri/anak muda. Dunia pesantren mengenal istilah takdir/musibah, ikhlas/menerima, dan tawadhu/hormat yang ditunjukkan para wali santri yang anaknya meninggal dengan menolak santunan dari pengasuh, agar santunan itu bisa digunakan untuk membangun mushalla kembali.

Pada Selasa (30/9/2025), keluarga almarhum Muhammad Sholeh bin Abdurrahman (22 tahun), salah satu korban wafat akibat musibah runtuhnya mushala pesantren putra Al-Khoziny, asal Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka, menerima santunan dari Dewan Pengasuh Pesantren Al-Khoziny, KHR Muhammad Ubaidillah Mujib (Kiai Mamad). Namun, santunan duka serta biaya kargo pemulangan jenazah tersebut dikembalikan lagi oleh Abdul Fattah, kakak kandung korban.

 





COPYRIGHT © ANTARA 2026