Yogyakarta (ANTARA) - Program Layanan UMKM Naik Kelas (Lunas) menghadirkan solusi pembukuan dan laporan keuangan terstandar secara gratis bagi pelaku UMKM di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
"Program ini bertujuan membantu UMKM naik kelas melalui tata kelola keuangan yang profesional untuk mempermudah akses pembiayaan," kata perwakilan "Lunas" Baskoro pada acara Sebakul yang diadakan di Teras Malioboro Yogyakarta, Kamis.
Menurut dia, program ini memberikan pelatihan yang aplikatif dan bisa langsung dipraktikkan oleh pelaku UMKM.
"Sejak pandemi COVID-19, kami fokus pada pelatihan yang sifatnya praktik aplikatif, bisa langsung dipraktikkan pada usahanya. Kami sudah meninggalkan model pelatihan satu arah atau ceramah seminar, tapi lebih kepada pelatihan yang bisa dipraktikkan langsung," katanya.
Ia mengatakan, "Lunas" yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur, ini telah beroperasi secara nasional sejak 2019 dengan meluncurkan platform digital untuk mempermudah akses layanan bagi UMKM di seluruh Indonesia.
Istilah UMKM Naik Kelas, pertama kali diperkenalkan pada 2014 melalui program Gerakan Satu Juta UMKM Naik Kelas yang digagas Deputi Pengembangan, Pendampingan dan Restrukturisasi Usaha di Kementerian Koperasi dan UKM.
"Perjalanan istilah UMKM Naik Kelas ini cukup panjang, dimulai sejak 2014. Bahkan Hari UMKM Nasional pada 12 Agustus, sebenarnya lahir dari perjalanan program pendampingan yang dimulai sejak 2016," katanya.
Ia menambahkan, pada dua tahun terakhir, fokus program masih sebatas mengedukasi UMKM tentang pencatatan uang masuk dan uang keluar melalui aplikasi BukuKas. Namun tahun ini, "Lunas" meningkatkan target dengan membantu UMKM memiliki laporan keuangan terstandar.
"Tahun ini kami ingin UMKM punya laporan keuangan yang terstandar, bukan hanya catatan sederhana. Laporan ini nantinya bisa digunakan untuk mengajukan pembiayaan ke lembaga keuangan," katanya.
Baskoro mengatakan Program "Lunas" menerapkan konsep pentahelix yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk akademisi dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Di Yogyakarta, "Lunas" telah menjalin kerja sama dengan mahasiswa jurusan akuntansi dari SMK 7 Yogyakarta dan mahasiswa akuntansi dari Universitas Mercu Buana.
"Kami bekerja sama dengan mahasiswa yang akan membantu teman-teman UMKM secara gratis untuk menyusun laporan keuangan yang siap pakai di berbagai kabupaten dan kota di DIY," katanya.
Ia mengatakan, mekanisme programnya cukup sederhana. UMKM hanya perlu mencatat transaksi harian di aplikasi BukuKas, mencatat berapa uang masuk dan uang keluar setiap hari. Selanjutnya, para relawan mahasiswa akan memproses data tersebut menjadi laporan keuangan yang lengkap dan terstandar.
"Laporan keuangan yang dihasilkan akan mencakup berbagai aspek termasuk rasio keuangan seperti rasio profitabilitas dan solvabilitas. Ini yang dibutuhkan oleh lembaga pembiayaan untuk menilai kondisi dan potensi bisnis UMKM," katanya.
Ia menekankan bahwa pencatatan yang rapi dan konsisten adalah kunci utama untuk menghasilkan laporan keuangan yang akurat.
Ia membagikan lima langkah sederhana yang harud dilakukan UMKM yaitu catat di buku kas, tulis tanggal lengkap, keterangan detail, pisahkan kategori, konsisten mencatat.
"UMKM hanya perlu melakukan lima hal ini dengan konsisten. Sisanya, tim relawan mahasiswa kami yang akan merapikan dan mengolahnya menjadi laporan keuangan standar yang siap digunakan," katanya.
Salah satu tantangan terbesar UMKM, kata dia, adalah keterbatasan pengetahuan akuntansi.
"Kebanyakan pelaku UMKM tidak memiliki latar belakang akuntansi. Mereka jago jualan, jago produksi, tapi untuk urusan pembukuan dan laporan keuangan, banyak yang belum paham. Ini yang kami coba bantu," katanya.
Selain itu, banyak UMKM yang masih mencampur keuangan usaha dengan keuangan pribadi. Hal ini membuat sulit untuk mengetahui kondisi kesehatan keuangan usaha yang sebenarnya.
"Banyak UMKM yang uang usaha dan uang pribadi jadi satu. Padahal ini penting dipisahkan agar kita tahu, apakah usaha kita benar-benar untung atau tidak," katanya.
