Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong penguatan budaya sadar bencana sebagai bagian dari strategi membangun ketahanan nasional menghadapi berbagai ancaman bencana alam, non-alam, dan sosial, di Tanah Air.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan ketangguhan bangsa dalam menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknis dan infrastruktur, tetapi juga oleh karakter masyarakat yang tangguh, solidaritas sosial, serta kepemimpinan yang kuat di setiap lapisan.
“Ketangguhan dalam menghadapi bencana bukan hanya tentang kesiapan teknis, tetapi juga tentang mental, solidaritas, dan kepemimpinan yang kokoh di setiap lapisan masyarakat,” ucapnya saat menjadi penceramah dalam kegiatan Pendidikan Reguler Angkatan XXVI Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI di Jakarta, Jumat.
Dalam paparannya berjudul “Konsep Penanggulangan Bencana Alam dalam Mendukung Keamanan Nasional yang Kokoh”, Suharyanto menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu dari 35 negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi di dunia.
Menurut dia, kondisi geografis dan geologis menjadikan sebagian besar wilayah Indonesia berada di jalur rawan bencana, baik hidrometeorologi, geologi, maupun non-alam.
BNPB mencatat periode 2021–2025 menunjukkan penurunan jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi akibat bencana masing-masing sebesar 93,49 persen dan 79,76 persen.
Capaian tersebut dinilai sebagai hasil dari peningkatan efektivitas strategi penanggulangan bencana dan kesiapsiagaan pemerintah bersama masyarakat.
Dalam membangun ketahanan nasional, kata dia, BNPB terus mengembangkan program Desa Tangguh Bencana (Destana), sistem peringatan dini multi-bahaya (Multi-Hazard Early Warning System/MHEWS), serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi bencana hidrometeorologi.
"Upaya ini diiringi dengan peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan penguatan sinergi lintas kementerian dan lembaga," katanya.
Suharyanto juga menyoroti pentingnya mitigasi struktural dan non-struktural, serta penataan ruang berbasis risiko bencana agar peristiwa serupa seperti tsunami Aceh 2004, erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur 2021, dan banjir lahar dingin Gunung Marapi di Sumatera Barat 2024, tidak menimbulkan korban besar pada masa depan.
Kegiatan di Lemhannas tersebut turut dihadiri Sekretaris Utama BNPB Prof. Ivan Elisabeth Purba, Kapusdatinkom BNPB Abdul Muhari, serta para peserta program pendidikan.
Melalui forum itu BNPB mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan kesadaran bencana sebagai bagian dari karakter nasional dan pilar utama ketahanan bangsa.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BNPB jadikan budaya sadar bencana bagian dari ketahanan nasional
