Dosen Psikologi Unisa bagikan empat cara adaptasi sehat bagi mahasiswa rantau di Yogyakarta

id dosen unisa,mahasiswa rantau,adaptasi sehat

Dosen Psikologi Unisa bagikan empat cara adaptasi sehat bagi mahasiswa rantau di Yogyakarta

Dosen Psikologi Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) Ratna Yunita Setiyani, S.M.Psi., Ph.D.,. ANTARA/Indra Kurniawan

Yogyakarta (ANTARA) - Dosen Psikologi Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) Ratna Yunita Setiyani, S.M.Psi., Ph.D., membagikan empat cara yang dapat membantu mahasiswa rantau beradaptasi secara sehat di lingkungan baru, yaitu "I am" (mengenal diri), "I have" (dukungan sosial), "I can" (kemauan), dan "I do" (tindakan).

"Keempat hal ini tidak hanya berguna untuk adaptasi di lingkungan baru, tetapi juga bisa diterapkan dalam situasi sulit lainnya, termasuk saat mengerjakan skripsi," ujar Ratna di Yogyakarta, Sabtu.

Ia menjelaskan, kunci pertama adalah "I am" atau mengenal diri sendiri. Mahasiswa rantau perlu memahami karakter, kesukaan, dan cara mereka melepaskan beban emosi.

"Yang pertama harus kita pahami adalah siapa diri kita, apa yang kita suka, dan apa yang tidak kita suka. Kalau sukanya naik motor, misalnya, bisa touring atau naik gunung untuk melepas beban emosi," katanya.

Kedua, "I have" atau memiliki support system. Menurut Ratna, mahasiswa perlu memiliki teman atau kelompok pendukung yang benar-benar menguatkan.

"Kita perlu support system, ada peer group, ada bestie. Ibarat pohon yang diterpa angin, ia tetap kokoh karena ada penopangnya," ujarnya.

Namun, Ratna mengingatkan tidak semua teman bisa disebut support system yang baik. "Kalau curhat malah dihakimi, itu bukan bestie namanya," tambahnya.

Ketiga, "I can" atau keyakinan terhadap kemampuan diri. Mahasiswa harus punya mimpi dan target jelas.

"Saya bisa, saya mampu. Misalnya, 'Saya ingin menyelesaikan studi dalam 3,5 tahun'. Itu bagian dari I can, karena kita tahu apa yang ingin kita capai," jelasnya.

Keempat, "I do" atau tindakan nyata. Menurut Ratna, tiga hal sebelumnya tidak berarti apa pun tanpa tindakan.

"Kalau semua hanya diangan-angankan tanpa dilakukan, itu non-sense. Maka kunci keempat adalah I do, saya lakukan," tegasnya.

Ratna juga menekankan pentingnya nilai budaya Yogyakarta seperti tepa selira (empati) sebagai jangkar penguatan dalam kehidupan sehari-hari.

"Sekadar memberi senyum pada orang lain bisa menggerakkan hati teman kita. Senyum itu secara psikologis menyehatkan diri, menciptakan lingkaran kebaikan," ujarnya.

Ia menambahkan, memulai hari dengan kebahagiaan akan memberi pengaruh besar terhadap suasana sepanjang hari.

"Kalau pagi diawali dengan kebaikan dan rasa bahagia, hari kita akan cerah. Ini sederhana, tapi kekuatan energinya besar sekali," kata Ratna.

Pewarta :
Editor: Luqman Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.