Yogyakarta (ANTARA) - Ketua DPD Partai Gerindra Daerah Istimewa Yogyakarta Danang Wicaksana Sulistya menyampaikan pandangannya terkait gelar pahlawan nasional terhadap Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dengan prinsip Mikul Dhuwur Mendhem Jero.
Wacana ini bukanlah sekadar perkara politik praktis, melainkan sebuah ajakan untuk eling (mengingat) dan menempatkan sejarah pada pranata (tatanan) yang semestinya.
Bagi masyarakat yang ngugemi (memegang teguh) adab dan budaya, seperti di Yogyakarta, falsafah "Mikul Dhuwur Mendhem Jero" adalah paugeran (pedoman) utama dalam memandang para pemimpin dan pendahulu.
"Falsafah ini mengajarkan kita untuk menjunjung setinggi-tingginya (mikul dhuwur) segala jasa, kebaikan, dan warisan luhur yang telah ditorehkan. Sekaligus, mengubur dalam-dalam (mendhem jero) segala kekirangan (kekurangan) atau pepacuh (kesalahan) yang mungkin pernah ada. Sebab, tiada gading yang tak retak," tutur Danang di Yogyakarta, dalam rilisnya.
Danang, yang kini juga mengemban amanah sebagai Anggota DPR RI (2024-2029), mengajak kita untuk berkaca.
Kita eling pada sosok Pak Harto. Beliau adalah "Bapak Pembangunan" yang menjadi saka guru (tiang utama) bagi stabilitas bangsa selama puluhan tahun. Di masa beliau, Indonesia yang gemah ripah loh jinawi (subur makmur) berhasil mencapai swasembada pangan. Pembangunan infrastruktur menjadi tetenger (penanda) kemajuan yang tak terbantahkan.
Di sisi lain, kita ngajeni (menghormati) sosok Gus Dur. Beliau adalah "Guru Bangsa", sang payung agung (payung besar) yang ngayomi (melindungi) semua golongan. Di tengah badai transisi, Gus Dur hadir laksana embun penyejuk, merawat kebhinnekaan, dan ngrumat (memelihara) demokrasi dengan rasa kemanusiaan yang mendalam.
"Tentu," lanjut Danang, "Dalam setiap era kepemimpinan, pasti ada catatan tersendiri. Namun, lautan jasa dan pengabdian beliau berdua untuk Ibu Pertiwi jauh lebih luas dan dalam ketimbang riak-riak yang menyertainya."
Menurut politisi Gerindra yang lahir pada 4 Januari 1979 ini, dukungan DPD Gerindra DIY terhadap usulan gelar pahlawan ini adalah wujud dari karakter bangsa yang luhur.
"Bangsa yang besar adalah bangsa yang berbudi, yang pandai matur nuwun (berterima kasih) dan menghormati para pendahulunya. Dengan mikul dhuwur Pak Harto dan Gus Dur, kita sejatinya sedang menjunjung tinggi kehormatan kita sendiri sebagai sebuah bangsa," tutupnya.
