Yogyakarta (ANTARA) - Tradisi Merti Ngupit ke-1159 kembali digelar di Ngupit, Desa Kahuman, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten, Minggu (9/11/2025), sebagai upaya merawat jejak sejarah yang diyakini masyarakat sebagai salah satu desa tertua di wilayah Klaten sekaligus memperkuat kesadaran ekologi melalui budaya.
Kepala Desa Kahuman Wedoyo Joko Sumitro mengatakan tradisi ini merupakan wujud syukur sekaligus pernyataan komitmen menjaga ruang hidup secara turun-temurun.
“Merti Ngupit bukan hanya menjaga memori masa lalu, tetapi menjadi pengingat bahwa lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita,” katanya.
Rangkaian acara sebelumnya meliputi perlombaan anak dan remaja, Ngupit Bersholawat, pementasan karawitan, ikon Tari Pisungsung Upit, hingga ketoprak yang menampilkan narasi sejarah desa.
Inti tradisi diwujudkan melalui prosesi pengambilan air dan tanah dari empat penjuru desa yang kemudian disatukan dengan air dari Sumber Pengilon sebagai pusat. Prosesi ini mengandung filosofi Sedulur Papat Limo Pancer yang merefleksikan hubungan manusia dengan alam untuk menjaga keseimbangan hidup.
Pada titik sumber, ditampilkan pementasan wayang singkat lakon Wahyu Tirta Wening oleh Dalang Jawahir sebagai simbol bahwa kejernihan air mencerminkan kejernihan batin masyarakat.
“Air bukan hanya sumber daya, tetapi juga penentu kualitas tatanan sosial dan moral kita,” ujar Jawahir.
Setelah seluruh air dan tanah kembali ke pusat desa, prosesi dilanjutkan dengan penanaman pohon beringin di area Balai Desa Kahuman. Beringin dipilih sebagai lambang pelestarian, karena akarnya mampu menyimpan air dan menjaga tanah tetap kuat.
Rohani selaku penggerak seni budaya Ngupit menegaskan bahwa tradisi hanya akan hidup jika mampu menjawab tantangan zaman.
“Tradisi relevan ketika tidak berhenti di simbol, tapi diterjemahkan dalam tindakan nyata menghadapi persoalan lingkungan seperti krisis air dan perubahan iklim,” ucapnya.
