Yogyakarta (ANTARA) - Kawedanan Hageng Punakawan Nitya Budaya Keraton Yogyakarta menggelar Seminar Jejak Peradaban Keraton Yogyakarta di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam rangka mendukung dan memperkuat pariwisata berbasis budaya di era digital.
Seminar ini diikuti ribuan pelaku seni budaya, pegiat pariwisata, serta pelaku UMKM di DIY.
Pangageng KHP Nitya Budaya GKR Bendoro di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan tema seminar kali ini sejalan dengan pameran akhir tahun Kerajaan Yogyakarta Hadiningrat yang menyoroti masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, bahwa di massa kepemimpinan tersebut merupakan periode terbukanya budaya dan berkembangnya berbagai produk tradisi.
“Berbicara tentang sinergi budaya dengan media sosial, kita sebenarnya bukan berhadapan sebagai musuh. Tantangannya adalah bagaimana kita sadar dan bijak menyiarkan budaya kita sendiri,” kata GKR Bendoro.
Ia juga menyampaikan pentingnya peran generasi muda sebagai pewaris nilai budaya. Ia menyebut generasi milenial dan Gen Z tidak jauh dari budaya, hanya memerlukan akses informasi yang terpercaya.
“Yang mereka butuhkan hanyalah kemana mereka mendapatkan informasi yang bertanggung jawab. Keraton hadir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pun melakukan berbagai pembaruan agar Keraton relevan dengan zamannya, termasuk mengubah simbol keraton lebih dari lima kali.
Lebih lanjut, GKR Bendoro memaparkan bahwa perubahan-perubahan yang dilakukan pada masa lalu juga berperan membuka peluang ekonomi masyarakat. Banyak produk UMKM yang kini dikenal luas memiliki akar kuat dari tradisi Keraton.
"Saya harap semua dapat menikmati jejak peradaban dengan baik sehingga berdampak bagi pelestarian budaya kita,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menyatakan bahwa seminar ini mendukung langkah Pemerintah Kulon Progo memperkuat pariwisata berbasis budaya.
Ia mengatakan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya berhenti pada destinasi wisata, tetapi juga mencakup kekayaan budaya, UMKM, kuliner, perhiasan, dan kreativitas masyarakat lokal.
“Jika informasi budaya dari masa lalu tidak kita sesuaikan dengan generasi berikutnya, maka budaya bisa terputus dan hilang,” ungkapnya.
Bupati Agung menilai bahwa paparan budaya luar melalui media sosial tidak terhindarkan, namun dibutuhkan penyaringan bijak agar generasi penerus memiliki fondasi budaya yang kuat. “Budaya luar itu belum tentu sejalan dengan kita. Dengan menyaring, kita memberi benteng ilmu kepada generasi berikutnya,” tegasnya. Ia menekankan pentingnya pendidikan, pawiyatan, serta pemeliharaan budaya sebagai cara menanamkan nilai-nilai budaya kepada generasi muda.
Menutup tanggapannya, Bupati Agung berharap seminar ini menjadi momentum awal untuk memastikan budaya di Kulon Progo dan Yogyakarta tetap lestari.
"Semoga budaya kita dapat lestari, maju, dan tidak hilang karena perkembangan zaman. Sinergi antara pemerintah, Keraton, pelaku budaya, dan generasi muda dapat memperkuat masa depan kebudayaan Yogyakarta,” harapnya.
