
BPBD Bantul mengimbau masyarakat tingkatkan kewaspadaan puncak musim hujan

Bantul (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta mengimbau masyarakat di daerah ini meningkatkan kewaspadaan potensi bencana pada puncak musim hujan yang berlangsung pada Januari 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amiruddin di Bantul, Rabu, mengatakan berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Januari ini memasuki puncak musim hujan, sehingga potensi kejadian dampak cuaca ekstrem meningkat.
"Kami mengimbau kepada seluruh warga untuk meningkatkan kewaspadaan demi keselamatan bersama pada puncak musim hujan ini," katanya.
Langkah-langkah kewaspadaan yang perlu dilakukan masyarakat dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem, yaitu menghindari area berisiko, seperti menjauh dari pohon besar, papan reklame, dan bangunan rapuh saat angin kencang.
"Warga juga agar waspada banjir dan longsor, sehingga bagi warga yang tinggal di bantaran sungai dan lereng bukit, mohon tingkatkan kesiapsiagaan jika hujan turun lebih dari satu jam tanpa henti," katanya.
Masyarakat juga diimbau memperhatikan keamanan listrik, dengan mencabut peralatan elektronik jika petir mulai mendekat dan segera matikan aliran listrik jika air mulai masuk rumah.
Bagi pengendara kendaraan bermotor, BPBD mengimbau mereka tidak memaksakan berkendara saat jarak pandang terbatas akibat hujan lebat.
"Sebaiknya cari tempat berteduh yang aman dan bukan di bawah jembatan layang maupun pohon," katanya.
Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan BPBD Bantul Antoni Hutagaol mengatakan hujan deras disertai angin pada Senin (12/1)) sore, berdampak pada 12 rumah, lima akses jalan, empat jaringan listrik, satu pekarangan, satu masjid, dan satu aliran sungai.
Kejadian itu tersebar di beberapa wilayah Bantul, yaitu Desa Poncosari (Srandakan), Desa Guwosari dan Triwidadi (Pajangan), Desa Argodadi Sedayu, Gilangharjo, dan Caturharjo (Pandak), Desa Ringinharjo, Palbapang, dan Trirenggo (Bantul), Desa Bawuran (Pleret), dan Desa Srimartani (Piyungan).
"Tidak ada korban jiwa dan luka dari kejadian itu. Selain itu, tidak ada warga yang harus mengungsi dikarenakan dampak kejadian ekstrem tersebut," katanya.
Pewarta : Hery Sidik
Editor:
Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
