Logo Header Antaranews Jogja

IDM adakan pelatihan tanggap bencana gempa bagi pelajar SMA di Bantul

Jumat, 30 Januari 2026 18:48 WIB
Image Print
Simulasi penanganan darurat bencana yang diselenggarakan IDM melalui InJourney Community Care kepada siswa SMA di Kabupaten Bantul pada 28 dan 29 Januari 2026. ANTARA/HO-IDM

Sleman (ANTARA) - InJourney Destination Management (IDM) dalam rangka memperingati 20 tahun peristiwa gempa bumi melaksanakan InJourney Community Care pelatihan tanggap bencana gempa bumi bagi pelajar di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Pelatihan yang melibatkan 200 siswa-siswi di SMA Negeri 1 Pundong dan SMA Negeri 1 Jetis, Bantul ini dilaksanakan pada 28 dan 29 Januari 2026," kata Operation Group Head IDM Leonardus Adityo Nugroho di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat.

Menurut dia, inisiatif kolaboratif ini dihadirkan IDM bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY melalui Sekretariat Bersama Satuan Pendidikan Aman Bencana (Sekber SPAB) di masing-masing sekolah.

"Pelatihan ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran dan keterampilan dasar pelajar, terutama dalam menghadapi situasi darurat bencana. Komitmen kami untuk memperkuat dan meningkatkan kesadaran rekan-rekan terutama di daerah rawan bencana agar terus siaga dan siap menghadapi bencana. Kolaborasi ini adalah Langkah awal untuk memperkuat kerja sama untuk semakin memperkuat manfaat bagi masyarakat DIY," katanya.

Koordinator PH Sekber SPAB DIY Budi Santoso mengatakan bahwa dalam dua hari pelaksanaan pelatihan ini, sebanyak 200 siswa-siswi mengikuti serangkaian materi intensif yang mencakup spektrum mitigasi yang meliputi pemahaman risiko mengenai potensi bencana gempa bumi, teknik penyelamatan, evakuasi hingga simulasi penanganan darurat.

"Peserta juga diajarkan untuk merespons bencana dengan tenang, mencari perlindungan serta simulasi jalur evakuasi menuju titik kumpul tanpa kepanikan. Pemilihan lokasi pelatihan juga karena di sini menjadi pusat dan salah satu daerah terdampak paling parah saat lindu besar mengguncang Yogyakarta 20 tahun silam," katanya.

Ia mengatakan, Sekber SPAB DIY mengindikasi 14 potensi bencana di DIY. Sementara kajian risiko bencana di Kabupaten Bantul ada 11 potensi yang meliputi bencana gempa, tsunami, cuaca ekstrem, banjir, kebakaran, tanah longsor, kekeringan, abrasi dan gelombang ekstrem, wabah penyakit, dan kegagalan teknologi.

"Indikator SPAB yang utama adalah terkumpulnya informasi ancaman, potensi kerentanan dan tindakan penyelamatan untuk mengurangi risiko bencana. Dukungan berbagai pihak diperlukan untuk menumbuhkan kesadaran dan keterampilan penanganan bencana di seluruh lapisan masyarakat," katanya.

Kepala Bidang SMA Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga DIY Tukiman mengapresiasi kegiatan ini sebagai bagian mengenalkan kembali potensi rawan bencana di wilayah DIY.

"Potensi bencana di DIY cukup kompleks. Kita bersyukur hari ini bisa belajar bersama, mengenali agar tidak terlalu panik menghadapi bencana. Kalian juga diharapkan bisa sebagai pioner kepada teman-teman satu kelas maupun di kampung bagaimana mitigasi bencana yang baik," katanya.



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026