Logo Header Antaranews Jogja

Filosofi kantor yang menyenangkan ala perusahaan teknologi India

Minggu, 1 Februari 2026 21:35 WIB
Image Print
Kantor Zoho and ManageEngine Campus yang ada di Chennai, India. (ANTARA/Zoho Corp)

Pendekatan tersebut juga meluas hingga kebutuhan keluarga karyawan. Di sekitar kawasan kantor, perusahaan menyediakan fasilitas penitipan anak serta sekolah yang dibangun berdekatan dengan area kerja. Keberadaan fasilitas ini dimaksudkan agar urusan keluarga tidak sepenuhnya terpisah dari kehidupan profesional, sekaligus memberi ketenangan bagi karyawan dalam menjalani keseharian.

Di balik kebijakan itu, ada pemahaman sederhana: semakin sedikit energi yang terpakai untuk urusan logistik sehari-hari, semakin besar ruang bagi karyawan untuk fokus bekerja dan berinteraksi dengan rekan kerja.

Namun, Shailesh menegaskan bahwa fasilitas bukanlah tujuan utama. Yang ingin dibangun adalah budaya kerja. Ia percaya loyalitas tidak muncul hanya karena kenyamanan fisik, melainkan dari bagaimana perusahaan memperlakukan karyawannya, seberapa besar kepercayaan diberikan, seberapa luas kebebasan untuk bereksperimen, dan seberapa bermakna tanggung jawab yang diemban.

Dalam jangka panjang, pendekatan ini berdampak pada retensi karyawan. Banyak pekerja bertahan selama bertahun-tahun dalam satu bidang, membangun pemahaman mendalam yang kemudian memperkaya kualitas produk dan layanan perusahaan.

Cara berpikir jangka panjang tersebut juga tercermin dalam strategi pengembangan produk. Teknologi akan terus berubah, begitu pula kebutuhan pelanggan. Karena itu, kedekatan dengan pengguna menjadi prinsip penting dalam proses inovasi.

“Kami ingin selalu dekat dengan pelanggan, memahami masalah mereka, berbicara dengan mereka, dan melihat bagaimana kami dapat menanganinya dengan sebaik mungkin.”

Mendengarkan pelanggan bukan sekadar slogan. Bahkan ketika sebuah produk membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk matang, pendekatan bertahap tetap diambil, merilis lebih awal, mengamati respons, lalu mengembangkan produk berdasarkan masukan pengguna.


AI dengan kesadaran

Pendekatan serupa terlihat dalam pemanfaatan kecerdasan buatan. Meski telah mengembangkan AI selama lebih dari satu dekade, teknologi tersebut tidak diterapkan secara berlebihan.

“Tidak semua masalah membutuhkan generative AI. Berdasarkan masalahnya, kami menggunakan teknik yang tepat tanpa terbawa tren,” kata Shailesh.

Bagi perusahaan ini, teknologi seharusnya bekerja secara relevan, bukan sekadar mengikuti hype. Prinsip kehati-hatian yang sama juga diterapkan pada isu privasi. Data pelanggan diposisikan sepenuhnya sebagai milik pelanggan dan tidak digunakan untuk melatih model AI. Sikap ini, meski terkadang tidak menguntungkan dalam jangka pendek, dipandang sebagai investasi kepercayaan.

Selain soal relevansi teknologi, pendekatan terhadap AI juga berkaitan dengan cara perusahaan memandang tanggung jawab jangka panjang. AI tidak hanya diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga harus digunakan secara terkendali dan dapat dipertanggungjawabkan.

Karena itu, pemanfaatan AI selalu ditempatkan dalam konteks kerja yang jelas, dengan batasan yang tegas agar tetap selaras dengan kebutuhan bisnis dan nilai perusahaan.

Pada akhirnya, filosofi yang dijelaskan Shailesh menunjukkan bahwa perusahaan teknologi tidak hanya membangun produk, tetapi juga merancang lingkungan tempat manusia bekerja dan bertumbuh. Kantor bukan sekadar ruang untuk mengejar produktivitas, melainkan tempat di mana ide bertemu, kolaborasi tumbuh, dan keseimbangan hidup dijaga.

Di tengah industri teknologi yang bergerak cepat, pendekatan ini menunjukkan satu keyakinan sederhana: ketika manusia ditempatkan sebagai pusat dari cara kerja, bisnis memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bertahan dalam jangka panjang.




 



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Filosofi kantor yang menyenangkan ala perusahaan teknologi India

Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026