Logo Header Antaranews Jogja

Kemenkes: Skrining malaria Papua meningkat 337 persen pada 2021-2025

Selasa, 24 Februari 2026 14:15 WIB
Image Print
Ilustrasi - Nyamuk anopheline betina yang infektif menyebabkan penyakit malaria. ANTARA/HO-Xinhua/aa

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan dalam empat tahun terakhir skrining malaria di Tanah Papua meningkat 337 persen dari 983 ribu pemeriksaan pada tahun 2021 menjadi 4,3 juta pemeriksaan pada 2025.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman di Jakarta, Selasa, mengatakan dari pemeriksaan tersebut penemuan kasus meningkat 136 persen, dimana pada tahun 2021 terdapat sekitar 282 ribu kasus ditemukan dan pada 2025 ditemukan 667 ribu kasus.

"Ini menunjukkan bahwa peningkatan laporan kasus bukan semata karena penularan meningkat, tetapi karena sistem deteksi semakin baik dan lebih banyak infeksi yang sebelumnya tidak terlaporkan kini berhasil ditemukan dan diobati," katanya.

Dia menyebutkan cakupan pemeriksaan atau Annual Blood Examination Rate (ABER) di Papua meningkat sangat signifikan, dari sekitar 22 persen pada 2021 menjadi sekitar 74 persen pada 2025. Artinya, semakin banyak masyarakat yang diperiksa sehingga lebih banyak kasus berhasil ditemukan lebih dini.

"Di saat yang sama, positivity rate justru menurun dari sekitar 29 persen menjadi sekitar 16 persen," katanya.

Baca juga: Dokter spesialis ingatkan konsep ABCD guna cegah malaria

Terkait tren malaria, katanya, pada 2025 ditemukan 699.992 kasus dengan 124 kematian, dan pada 2026 per 23 Februari ditemukan 53.246 kasus dengan 20 kematian. Ada 412 atau 80 persen dari 80 persen kabupaten dan kota sudah berhasil mencapai eliminasi malaria.

Dia menyoroti komitmen pemerintah untuk terus memperkuat diagnosis cepat, pengobatan tepat, serta pengendalian vektor untuk menurunkan penularan secara berkelanjutan di Papua.

Oleh karena itu per tahun ini skrining malaria melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) juga akan dimulai secara bertahap di daerah endemis tinggi, mempertimbangkan beban penyakit, kesiapan layanan, dan kapasitas diagnostik daerah.

Baca juga: Kulon Progo gencarkan program eliminasi malaria hingga pelosok

"Fokus sasaran awal integrasi CKG anak usia sekolah," ujar Aji.

Secara nasional, lanjutnya, tren malaria di Indonesia menunjukkan kemajuan eliminasi di sebagian besar wilayah, tetapi beban kasus masih sangat terkonsentrasi di Tanah Papua. Sekitar 95 persen kasus nasional berasal dari wilayah Papua, sehingga kawasan ini menjadi episentrum malaria Indonesia.

"Sebagian besar kabupaten/kota Indonesia sebenarnya sudah mencapai eliminasi malaria, menunjukkan kemajuan signifikan program nasional. Namun di Tanah Papua baru 3 dari 42 kabupaten mencapai eliminasi malaria," katanya.

Pihaknya menyebutkan obat malaria masih bekerja sangat baik untuk mengatasi penyakit yang banyak ditemukan di wilayah Papua dan pihaknya terus melakukan pemantauan berkala guna menindaklanjuti apabila ditemukan penurunan efektivitas obat di wilayah tertentu.

Baca juga: Pemkab Kulon Progo meningkatkan kewaspadaan malaria di Bukit Menoreh

"Studi efikasi terapi oleh Kemenkes bersama WHO dan mitra pada 2024–2025, obat utama Dihydroartemisinin-Piperaquine (DHP), serta alternatif Artesunate-Pyronaridine (ASPY) dan Artemether-Lumefantrine (AL), masih bekerja sangat baik. Tidak ditemukan keterlambatan pembersihan parasit (indikator utama resistansi)," katanya.

Hal tersebut dikemukakan merespon Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menyebutkan bahwa di sejumlah belahan dunia, parasit-parasit penyebab malaria semakin tahan atau resisten terhadap terapi-terapi kombinasi berbasis Artemisinin (ACT). Jika resistensi tersebut terjadi di Indonesia, maka obat-obatan itu kehilangan efektivitasnya, membahayakan pasien, serta meningkatkan risiko penyebaran.

Adapun Indonesia memiliki komitmen untuk mencapai eliminasi malaria pada 2030.






Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kemenkes: Skrining malaria Papua meningkat 337 persen pada 2021-2025



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026