
PBTY XXI memperkuat persaudaraan lintas etnis dan agama

Yogyakarta (ANTARA) - Agenda tahunan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) kembali digelar di Kampoeng Ketandan, Kota Yogyakarta mulai 25 Februari hingga 3 Maret 2026 dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Imlek 2026.
"Pelaksanaan PBTY tahun ini atau yang ke-21 mengusung tema Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa ini sebagai upaya memperkuat persaudaraan lintas etnis dan agama," kata Ketua Panitia PBTY XXI 2026, Jimmy Sutanto di Yogyakarta, Jumat.
Menurut dia, agenda budaya yang telah berlangsung selama dua dekade tersebut memiliki tantangan tersendiri, karena bertepatan dengan Bulan Ramadhan.
"Yang menjadi pembeda tahun ini adalah bertemunya dengan bulan puasa, sehingga kami perlu menghargai waktu-waktu tertentu, seperti saat buka puasa dan tarawih. Seluruh pementasan seni dimulai pukul 20.00 WIB sebagai bentuk penghormatan kepada umat Muslim yang menjalankan ibadah," katanya.
Ia mengatakan tema Warisan Budaya, Kekuatan Bangsa, mengandung pesan bahwa nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi penting dalam membentuk jati diri, memperkuat persatuan, serta mendorong kemajuan bangsa.
"Dalam pelaksanaannya, panitia juga melakukan pengaturan zona kuliner dengan memisahkan stan makanan halal dan nonhalal. Area makanan halal dan umum ditempatkan di sisi barat hingga utara kawasan, sedangkan stan nonhalal berada di sisi selatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan supaya pengunjung merasa nyaman," katanya.
Jimmy mengatakan sebanyak 172 gerai UMKM terlibat dalam PBTY XXI lebih dari 300 pendaftar, tingginya minat pedagang menunjukkan bahwa PBTY menjadi agenda yang dinantikan, karena memberikan dampak ekonomi.
"Pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, jumlah pengunjung tercatat mencapai sekitar 8.000 hingga 10.000 orang. Panitia berharap minat masyarakat tidak berkurang meski bertepatan dengan Ramadhan. Bahkan, bisa juga sebelum maghrib masyarakat datang untuk membeli takjil sambil ngabuburit di Kampoeng Ketandan," katanya.
Selain bazar kuliner dan UMKM, PBTY XXI juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni, seperti Wayang Potehi, tarian tradisional, pertunjukan barongsai, serta panggung seni lintas budaya.
Jimmy berharap melalui PBTY, rasa persaudaraan antarwarga semakin meningkat, sehingga perbedaan agama dan golongan tidak menjadi hambatan. Jogja city of tolerance," katanya.
Salah satu pedagang perlengkapan barongsai, Rusmadi (45), mengaku rutin mengikuti PBTY setiap tahun. "Sudah sering jualan di acara PBTY dan memang sudah terkenal tiap tahunnya ada. Jadi, setelah saya jualan di acara Imlek Solo, setelah itu pasti ke Yogyakarta," katanya.
Salah satu pengunjung, Amelia (22) mengaku baru pertama kali mengunjungi PBTY setelah mendapat informasi dari temannya.
"Saya baru pertama kali ke PBTY dan tau informasinya dari teman. Pilihan street food di sini beragam banget, mulai dari jajanan yang lagi viral sampai makanan khas Imlek. Kebetulan saya juga lagi cari takjil, jadi bisa sekalian food hunting yang lain," katanya.
Ia mengaku ketertarikannya terhadap pertunjukan barongsai menjadi salah satu alasan datang ke acara tersebut. "Saya memang ingin menonton barongsai secara langsung. Itu salah satu yang bikin saya datang ke sini," katanya.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PBTY XXI perkuat persaudaraan lintas etnis dan agama
Pewarta : V001 dan Aufa Ulya Fithrin
Editor:
Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
