Dinkes Bantul siagakan petugas layanan maternal neotanal pada libur Lebaran

id Dinkes Bantul ,Siagakan pelayanan kesehatan ,Kesiapsiagaan lebaran

Dinkes Bantul siagakan petugas layanan maternal neotanal pada libur Lebaran

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul Agus Tri Widiyantara (ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyiapkan rumah sakit dan puskesmas agar menyiagakan petugas kesehatan untuk pelayanan kegawatdaruratan maternal neotanal selama masa libur Lebaran 2026.

Kepala Dinkes Bantul Agus Tri Widiyantara di Bantul, Senin, mengatakan sebagai kesiapsiagaan kegawatdaruratan maternal neonatal RS yang melayani kesehatan ibu anak baik RS PONEK (Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komprehensif) maupun non-PONEK menjadwalkan dokter spesialis obstetry dan ginekologi yang bisa siaga.

"Sedangkan puskesmas PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar) dan puskesmas rawat inap lainnya agar menyiagakan petugas dan sarana prasarana untuk pelayanan kegawatdaruratan maternal neonatal," katanya.

Dia mengatakan semua puskesmas agar melakukan pemantauan kesehatan ibu dan anak sesuai wilayah kerja, dengan sasaran pemantauan adalah ibu hamil dengan hari perkiraan lahir pada 13 Maret sampai 30 Maret 2026.

"Jika diperlukan dapat dilakukan rujukan dengan menggunakan alur manual rujukan Kabupaten Bantul dan dipastikan kelengkapan berkas seperti surat rujukan, surat keterangan dalam perawatan, dan lain lain," katanya.

Petugas puskesmas, kata dia, agar memastikan tujuan rujukan bila ibu hamil tersebut yang memerlukan, memastikan ibu hamil mempunyai jaminan kesehatan, serta memastikan ibu hamil sudah mempersiapkan dua calon donor darah.

"Selain itu melakukan edukasi agar ibu hamil meningkatkan upaya perilaku hidup bersih dan sehat dengan rajin cuci tangan pakai sabun, menggunakan masker di tempat ramai dan makan makanan bergizi," katanya.

Lebih lanjut Agus mengatakan semua puskesmas dan RS agar melaporkan kejadian potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), kejadian keracunan makanan, dan penyakit potensial KLB lain untuk kepentingan tindak lanjut.

Selain itu seluruh rumah sakit, puskesmas, dan klinik, meningkatkan kewaspadaan dini terhadap penyakit potensial KLB atau wabah demam berdarah, leptospirosis, hantavirus, serta malaria, melalui pemantauan wilayah setempat.

"Dan melakukan skrining malaria kepada masyarakat dengan riwayat bepergian pulang dari daerah endemis malaria dengan atau tanpa gejala melalui pemeriksaan RDT dan dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopis jika terkonfirmasi positif," katanya.

Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.