
Umat Hindu Buleleng gelar pawai ogoh-ogoh

Buleleng, Bali (ANTARA) - Umat Hindu di kawasan pedesaan di Kabupaten Buleleng, Bali, turut menggelar pawai ogoh-ogoh yang menjadi simbol representasi dari bhuta kala yaitu kekuatan atau energi negatif dalam ajaran Hindu.
"Bhuta kala mencerminkan sifat-sifat buruk dalam diri manusia, seperti amarah, keserakahan, dan kebodohan. Hal ini harus dilebur sebelum keesokan harinya melaksanakan brata penyepian," kata Ketua Sanggar Seni Wahana Santhi Desa Umejero Ketut Pany Ryandy di Buleleng, Rabu.
Ia juga menilai pawai ogoh-ogoh bukan sekadar pertunjukan seni tahunan, melainkan representasi nilai-nilai spiritual dalam ajaran Hindu yang sarat makna.
Menurutnya, ogoh-ogoh merupakan simbolisasi bhuta kala yakni energi negatif atau sifat-sifat adharma dalam diri manusia yang perlu dikendalikan dan disucikan menjelang Hari Raya Nyepi.
Adapun proses pembuatan ogoh-ogoh yang melibatkan generasi muda juga menjadi ruang edukasi budaya dan spiritual yang penting.
“Anak-anak muda tidak hanya belajar seni rupa dan kreativitas, tetapi juga memahami filosofi keseimbangan antara bhuana alit dan bhuana agung. Ini menjadi bagian dari pembentukan karakter berbasis nilai-nilai Hindu,” ujarnya.
Dari perspektif seni budaya, kata dia, ogoh-ogoh merupakan karya seni rupa kontemporer berbasis tradisi yang terus berkembang mengikuti dinamika zaman. Setiap ogoh-ogoh menampilkan eksplorasi bentuk, ekspresi, dan teknik artistik, mulai dari anatomi figur, komposisi, hingga pewarnaan yang mencerminkan identitas lokal, sekaligus inovasi kreatif para perajin muda.
Baca juga: Menag ajak jadikan Nyepi momen rawat harmoni di tengah keberagaman
"Bahkan, perkembangan teknologi seperti penggunaan rangka mekanik dan tata cahaya turut memperkaya estetika pawai tanpa menghilangkan akar tradisinya," kata dia.
Pihaknya juga melihat pawai ogoh-ogoh sebagai ruang ekspresi kolektif masyarakat yang memadukan berbagai cabang seni, seperti seni rupa, seni musik (melalui iringan baleganjur), hingga seni pertunjukan.
“Di sinilah ogoh-ogoh menjadi media komunikasi budaya. Ia tidak hanya ditonton, tetapi juga dirasakan sebagai peristiwa estetis dan spiritual yang menyatukan masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan nilai estetika dalam ogoh-ogoh tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berkaitan dengan nilai etika dan tattwa (filsafat Hindu). Dengan demikian, keindahan visual ogoh-ogoh sejatinya mengandung pesan moral dan refleksi kehidupan yang mendalam," ucapnya.
Baca juga: Ribuan umat Hindu laksanakan Upacara Tawur Agung Kesangga di Lapangan Wisnu Mandala Candi Prambanan
Pewarta : Rolandus Nampu/IMBA Purnomo
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
