Logo Header Antaranews Jogja

BRIN kembangkan katalis nanokarbon dengan menggunakan limbah baterai

Sabtu, 4 April 2026 12:16 WIB
Image Print
Peneliti Pusat Riset Katalisis, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indri Badria Adilina menunjukkan sampel katalis nanokarbon dari limbah baterai. (ANTARA/HO-BRIN)

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Katalisis, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indri Badria Adilina mengembangkan katalis nanokarbon dengan memanfaatkan limbah baterai untuk memproduksi gas hidrogen dari air (electrocatalytic water splitting) sebagai bahan bakar alternatif.

Dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat, Indri menjelaskan karbon dari limbah baterai memiliki keunikan tersendiri. Setelah dimodifikasi, material ini memiliki konduktivitas listrik yang tinggi, sehingga mampu menghantarkan elektron secara efektif dalam proses elektrokatalitik untuk menghasilkan hidrogen.

"Di dalam limbah baterai terdapat material berbasis karbon yang berpotensi sebagai bahan baku katalis. Melalui modifikasi dengan pendekatan nanoteknologi, material ini dapat dikembangkan menjadi material maju berstruktur nano yang efektif untuk berbagai reaksi katalitik," katanya.

Indri memaparkan katalis berbasis karbon dari limbah baterai ini juga memiliki luas permukaan yang besar serta struktur nano berpori, yang sangat berperan dalam meningkatkan efisiensi transfer elektron dan mempercepat produksi hidrogen.

"Carbon black mass atau karbon dari baterai bekas mempunyai uniqueness yang setelah dimodifikasi bisa memiliki konduktivitas yang besar sehingga mampu menghantarkan elektron yang diperlukan untuk proses elektrokatalitik dalam proses water splitting menjadi hidrogen. Dalam proses elektrokatalitik ini, air dipecah menjadi hidrogen dan oksigen menggunakan katalis nanokarbon, sehingga menghasilkan green hydrogen yang digunakan sebagai alternatif biofuel hidrogen," ujarnya menguraikan.

Baca juga: Harga BBM melonjak, Pakistan gratiskan transportasi umum satu bulan

Baca juga: FAO: Harga pangan global naik 2,4 persen akibat kenaikan biaya energi

Dalam riset tersebut, Indri menguji katalis berstruktur nano melalui analisis luas permukaan, morfologi, struktur, serta pori dan nanopori. Karakterisasi ini dilakukan menggunakan teknik pencitraan seperti scanning electron microscopy (SEM) dan transmission electron microscopy (TEM).

Sedangkan untuk analisis mendalam pada tingkat atomik dan molekuler dilakukan melalui karakterisasi lanjut berbasis fasilitas akselerator, khususnya sinkrotron sinar-X dan neutron scattering.

"Melalui karakterisasi lanjut, kita bisa melihat lebih dalam terkait struktur kimia dan pori dan nanokarbon ini sehingga mendapatkan katalis yang efektif tanpa adanya structural changes atau perubahan-perubahan yang tidak diinginkan pada reaksi elektrokatalis ini," ungkapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan lebih dari 90 persen industri membutuhkan katalis. Katalis dibutuhkan di berbagai bidang selain untuk penelitian, seperti bidang kedokteran, tekstil, dan pangan.

Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi dengan berbagai pihak, baik dari dalam maupun luar negeri. Penelitian terkait baterai dilakukan bersama rekan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) serta peneliti dari Pusat Riset Sistem Nanoteknologi BRIN.

Selain itu, kerja sama internasional juga dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas penelitian skala besar untuk menyelidiki mekanisme katalitik dan kinerja material dalam kondisi realistis.

Khususnya dengan pemanfaatan teknik spektroskopi berbasis akselerator bersama kolaborator dari Inggris serta penggunaan fasilitas synchrotron X-ray melalui kolaborasi dengan peneliti dari Thailand.

"Saya berharap industri dapat gabung co-development dalam bidang-bidang fundamental ini, karena ini adalah bridging untuk menjadi industri modern yang lebih efektif dan efisien, yang pada akhirnya dapat mewujudkan ekonomi sirkular di Indonesia," tutur Indri Badria Adilina.






Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BRIN kembangkan katalis nanokarbon dengan menggunakan limbah baterai



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026