Logo Header Antaranews Jogja

Dirut Jasa Raharja: Kecelakaan ubah tatanan sosial-ekonomi keluarga

Selasa, 14 April 2026 17:41 WIB
Image Print
Direktur Utama Jasa Raharja Muhammad Awaluddin (tengah) dalam Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan unsur Penta Helix di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (13/4/2026). ANTARA/HO-Jasa Raharja

Jakarta (ANTARA) - Direktur Utama Jasa Raharja Muhammad Awaluddin menegaskan kecelakaan lalu lintas tidak hanya menyebabkan kehilangan nyawa, tetapi juga menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi keluarga yang ditinggalkan korban.

"Sebagian besar yang mengalami kecelakaan adalah usia produktif dan kepala keluarga, sehingga ada perubahan tatanan sosial-ekonomi yang berdampak pada keluarga yang ditinggalkan," kata Awaluddin dalam Diskusi Keselamatan Transportasi yang mempertemukan unsur Penta Helix di Makassar, Sulawesi Selatan, sebagaimana keterangan di Jakarta, Selasa.

Kondisi tersebut menyebabkan perubahan tatanan sosial dan ekonomi keluarga, termasuk penurunan pendapatan serta meningkatnya beban hidup anggota keluarga lain, terutama bila korban merupakan kepala keluarga sebagai tulang punggung ekonomi.

Sehingga Jasa Raharja mendorong pergeseran pendekatan penanganan kecelakaan dari responsif menuju preventif melalui penguatan sistem terintegrasi agar kejadian serupa dapat dicegah secara berkelanjutan.

"Pendekatan saat ini masih sangat dominan pada penanganan, sementara pola kecelakaan terus berulang. Kami ingin mendorong pergeseran dari responsif menjadi preventif melalui kerja sistem yang terintegrasi,” tegasnya.

Awaluddin mengaku, pihaknya memperkuat pendekatan pencegahan berbasis data melalui kolaborasi multipihak guna menekan angka kecelakaan, korban jiwa, serta dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan masyarakat luas.

"Pendekatan keselamatan transportasi perlu bergeser dari yang semula responsif menjadi preventif berbasis data guna menekan angka kecelakaan dan fatalitas korban," tuturnya.

Menurut dia, forum itu menjadi ruang kolaborasi untuk memperkuat upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas secara terpadu khususnya di wilayah Sulawesi Selatan.

Lebih lanjut Awaluddin mengungkapkan berdasarkan data Triwulan I 2026, nilai santunan di Sulawesi Selatan meningkat sebesar 11,14 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jumlah kejadian kecelakaan lalu lintas juga meningkat sekitar 8 persen menjadi lebih dari 2.000 kasus. Meski begitu, dia tidak menyebutkan secara rinci mengenai hal itu.

Secara nasional, lanjut Awaluddin, data Integrated Road Safety Management System (IRSMS) Korlantas Polri mencatat lebih dari 151.000 kejadian kecelakaan dengan lebih dari 217.000 korban per tahun, dengan tren yang terus meningkat setiap tahunnya.

Ia menegaskan peran Jasa Raharja tidak hanya terbatas pada penyaluran santunan, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem pencegahan kecelakaan.

Upaya tersebut dilakukan melalui pemetaan titik rawan kecelakaan (blackspot), edukasi tersegmentasi, serta peningkatan kapasitas respons pertama di lapangan.

Jasa Raharja menilai forum kolaboratif itu penting untuk membangun peta jalan keselamatan transportasi berbasis data dan kondisi lokal.

Permasalahan keselamatan lalu lintas dinilai tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan membutuhkan sinergi dan komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan.

Ditempat yang sama, Direktur Lalu Lintas (Dirlantas) Polda Sulsel Kombes Pol. Pria Budi, menyampaikan meskipun jumlah kecelakaan meningkat 8 persen di daerah itu, namun angka fatalitas korban meninggal dunia justru berhasil ditekan sebesar 24 persen, dari 234 orang pada Triwulan I 2025 menjadi 179 orang pada periode yang sama tahun 2026.

Dari data tersebut, sebanyak 74 persen kecelakaan merupakan kecelakaan tunggal, dengan 78 persen kendaraan yang terlibat adalah sepeda motor. Kecelakaan paling banyak terjadi pada pukul 15.00–18.00 Wita, umumnya pada kondisi cuaca cerah dan jalan yang baik.

Polda setempat juga telah memetakan titik rawan kecelakaan di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi tertinggi di Makassar, Maros, Barru dan Pangkep.

Selain itu, penegakan hukum didukung oleh 89 unit ETLE yang terdiri dari 14 unit statis dan 74 unit handheld.

"Keselamatan tidak hanya berhenti pada pencegahan, tetapi juga pada kualitas penanganan pada saat dan sesaat setelah kecelakaan terjadi,” tegasnya.

Forum tersebut juga menghasilkan sejumlah kesepakatan, antara lain penguatan edukasi interaktif keselamatan berkendara di titik rawan kecelakaan, hingga pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) bagi komunitas pengemudi sebagai first responder, guna menekan fatalitas korban pada masa penanganan awal.

Forum menghadirkan perwakilan dari Dinas Pendidikan, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, BPTD Kelas II Prov. Sulsel, BBPJN Sulsel, Dinas Bina Marga Sulsel, DPD Organda Sulsel, PT Makassar Metro Network, RSUP Wahidin Sudirohusodo, RSUP Makassar, komunitas ojek online, serta akademisi dari berbagai universitas di daerah tersebut.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Dirut Jasa Raharja: Kecelakaan ubah tatanan sosial-ekonomi keluarga



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026