Logo Header Antaranews Jogja

Analis: BI perlu beri bauran kebijakan terukur atasi pelemahan rupiah

Jumat, 24 April 2026 07:05 WIB
Image Print
Karyawan menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Kwitang, Jakarta, Kamis (23/4/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026) melemah 106 poin atau 0,62 persen menjadi Rp17.287 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.181 per dolar AS, dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat perang AS dan Iran. ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj.

Jakarta (ANTARA) -

Presiden Komisaris HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah perlu mengintervensi pelemahan rupiah dengan bauran kebijakan yang taktis dan terukur.

BI diperkirakan akan terus melakukan intervensi ganda, baik di pasar spot maupun pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dengan memanfaatkan cadangan devisa yang saat ini berada di kisaran 148 miliar dolar AS.

Selain itu, meski suku bunga acuan masih ditahan di level 4,75 persen, ruang untuk penyesuaian moneter tetap terbuka apabila inflasi impor mulai mengganggu stabilitas domestik, ujar Sutopo kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.

“Sementara pemerintah perlu memperketat disiplin fiskal guna menjaga kepercayaan investor jangka panjang,” ujar analis pasar keuangan itu.

Sebagaimana diketahui, nilai tukar rupiah pada Kamis siang, pukul 13.32 WIB, melemah 123 poin atau 0,72 persen menjadi Rp17.304 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya di level Rp17.181 per dolar AS.

Pelemahan itu dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal yang kuat dan kerentanan domestik.

Baca juga: Rupiah sentuh Rp17.304 per dolar AS, faktor eksternal jadi sebab utama

Baca juga: Rupiah melemah dipicu ketegangan AS-Iran yang tingkatkan harga energi

Sutopo menjelaskan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait blokade Selat Hormuz, telah mendorong kenaikan harga energi global dan inflasi yang kemudian memperkuat dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi di tengah tingginya harga minyak dunia, diikuti dengan arus modal keluar (capital outflows) akibat meningkatnya sentimen penghindaran risiko turut menekan nilai tukar rupiah.

Lebih lanjut, Sutopo menerangkan durasi tekanan terhadap rupiah sangat bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah serta arah kebijakan suku bunga bank sentral AS alias The Fed.

Selama ketidakpastian global masih tinggi, rupiah diperkirakan masih akan berada dalam tekanan jangka pendek hingga menengah.

Meski demikian, Sutopo menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif kuat, dengan proyeksi pertumbuhan berada di kisaran 4,9 persen hingga 5,7 persen pada 2026.

“Stabilitas diperkirakan baru akan kembali setelah ketegangan global mereda dan pasar mulai melihat titik terang mengenai normalisasi harga komoditas energi dunia,” ujar dia.







Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Analis: BI perlu beri bauran kebijakan terukur atasi pelemahan rupiah



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026