Logo Header Antaranews Jogja

Obsesi dalam balutan pesta kerasukan di film "Para Perasuk"

Jumat, 24 April 2026 13:11 WIB
Image Print
Pemain dan pembuat film “Para Perasuk” dalam konferensi pers usai pratayang film tersebut, di Jakarta, Selasa (14/4/2026). ANTARA/Sri Dewi Larasati

Jakarta (ANTARA) - “Para Perasuk”, film garapan sutradara Wregas Bhanuteja hadir dengan warna berbeda di industri perfilman Indonesia dengan cerita fenomena kerasukan alih-alih menakutkan justru membawa kebahagiaan.

Wregas mengeksplorasi fenomena kerasukan menjadi sebuah pengalaman komunal masyarakat, melalui tradisi Pesta Sambetan, yang digambarkan sebagai pertunjukan hiburan warga desa.

Dalam Pesta Sambetan terdapat Perasuk yang mengiringi dengan alunan musik menghadirkan ritual kerasukan roh hewan yang membawa Pelamun (peserta yang kerasukan) masuk ke alam sambet penuh euforia kenikmatan, di mana menjadi medium pelampiasan yang terpendam dari realitas.

Silakan gabung di pesta sambetan. Bareng-bareng kita lupain bentar ya cicilan, masalah keluarga lepasin semua di alam sambet,” bunyi dialog yang menyuguhkan kemeriahan pesta sambetan di Desa Latas.

Desa Latas, sebuah wilayah kecil di pinggiran kota di mana pesta sambetan yang melibatkan ritual kerasukan sebagai tradisi turun-temurun menjadi bagian dari kehidupan dan hiburan warga merasakan sensasi membahagiakan.

Namun di tengah euforia itu terdapat ancaman deru mesin alat berat yang siap menggusur sumber mata air keramat di Desa Latas, tempat para Perasuk mencari koneksi dengan roh-roh hewan. Ancaman kehilangan ini menyulut hati Bayu (Angga Yunanda), pemuda yang turut mencari peruntungan dalam bayang-bayang tradisi tersebut yang ingin menjadi Perasuk.

Baca juga: Iko Uwais mengangkat pencak silat dalam film "Ikatan Darah"
 

Kesempatan datang ketika guru dari sanggar sambetan pusat di Desa Latas, Asri (Anggun), tengah mencari Perasuk baru untuk menggelar pesta sambetan sebagai penggalangan dana menyelamatkan mata air itu dari ancaman pembongkaran oleh perusahaan Wanaria.

Bayu pun bertekad ingin menjadi Perasuk Utama yang bertanggung jawab memimpin pesta sambetan besar itu dengan latihan fisik yang menguras tenaga dan batin berusaha agar bisa terhubung dengan frekuensi roh-roh hewan di Desa Latas.

Terdapat sekitar 20 roh hewan yang memberikan pengalaman kerasukan beragam kepuasan bagi para Pelamun. Seperti Pelamun yang kerasukan roh bulus (kura-kura) masuk ke alam sambet merasa sedang dipijat, padahal di dunia asli mereka sedang mengalami serangan fisik.

Namun, seiring perjalanannya tersebut Bayu merasa tekanan kian datang mulai dari persaingan untuk menjadi Perasuk Utama, dengan Ananto (Bryan Domani) dan Pawit (Chicco Kurniawan), berkonflik dengan ayahnya (Indra Birowo), serta perasaan lebih ke seorang Pelamun, Laksmi (Maudy Ayunda), yang membawanya dalam dimensi di antara sadar dan tak sadar menguji kehidupannya.



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026