Logo Header Antaranews Jogja

Rupiah melemah seiring berhentinya negosiasi AS-Iran

Rabu, 29 April 2026 11:45 WIB
Image Print
Ilustrasi - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Bank Syariah Indonesia, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (21/1/2026). Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Rabu (21/1) bergerak menguat 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.936 per dolar AS dari hari sebelumnya Rp16.956 per dolar AS. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj)

Jakarta (ANTARA) - Nilai tukar rupiah pada Rabu pagi melemah 32 poin atau 0,19 persen menjadi Rp17.275 dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.243 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan berhenti atau kemandekan negosiasi perdamaian antara AS dengan Iran menekan nilai tukar rupiah.

“Harga minyak terus meningkat sejak sesi Asia hari Selasa (28/4), didorong oleh mandeknya negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Akibatnya, kekhawatiran terhadap inflasi global semakin meningkat, sehingga menekan mata uang Asia, termasuk rupiah,” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Iran disebut menawarkan proposal baru untuk membuka kembali Selat Hormuz pada pekan ini, namun sebagian besar pihak di Washington skeptis terhadap proposal tersebut karena melibatkan penundaan pembicaraan tentang aktivitas nuklir di Teheran.

Presiden AS Donald Trump sendiri tak senang dengan proposal terbaru Iran yang bertujuan untuk mengakhiri perang. Sumber-sumber Iran mengungkapkan proposal Teheran menghindari pembahasan program nuklir hingga permusuhan berhenti dan sengketa pelayaran di Teluk diselesaikan.

Baca juga: Rupiah Senin diprediksi melemah seiring gagalnya negosiasi AS-Iran

Baca juga: Sinergi antar lembaga penting untuk stabilisasi kurs rupiah

Mengutip Anadolu, harga komoditas juga menunjukkan tren beragam di tengah ketegangan akibat konflik AS dengan Iran yang belum terselesaikan, terutama akibat penutupan Selat Hormuz, sehingga memicu ekspektasi inflasi dan keputusan kebijakan moneter oleh bank sentral AS.

Ketidakpastian atas negosiasi perdamaian, kekhawatiran pasokan, dan biaya energi yang terus tinggi memicu perkiraan peningkatan inflasi global, yang berimplikasi terhadap kemungkinan The Fed dalam mengadopsi pendekatan lebih hati-hati ke depannya.

Sentimen lain berasal dari keputusan Uni Emirat Arab (UAE) menarik diri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan OPEC+. Keputusan tersebut akan berlaku efektif mulai 1 Mei 2026.

“Semalam, UAE mengumumkan keputusannya untuk keluar dari OPEC dan OPEC+, yang menambah kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan geopolitik,” kata Josua.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.200-Rp17.325 per dolar AS.








Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah melemah seiring berhentinya negosiasi AS-Iran



Pewarta :
Editor: Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026