
Ulama se-Jawa dukung pemberian gelar pahlawan nasional kepada Sri Sultan HB II

Yogyakarta (ANTARA) - Dukungan terhadap pengusulan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II sebagai pahlawan nasional terus mengalir dari berbagai kalangan. Kali ini, dukungan kuat datang dari para ulama se-Jawa dan para akademisi di Yogyakarta.
Salah satunya, akademisi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Ustadz M. Yaser Arafat yang menilai Sultan kedua Keraton Yogyakarta tersebut memiliki jasa luar biasa dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.
Dalam keterangannya, M. Yaser Arafat menyampaikan dukungannya atas pencalonan Sri Sultan HB II sebagai pahlawan nasional.
"Saya mendukung secara penuh pencalonan Sri Sultan Hamengku Buwono II sebagai pahlawan nasional, mengingat jasa-jasa beliau dalam mempertahankan Yogyakarta —wilayah yang saat ini menjadi Indonesia— dari serangan penjajah, terutama penjajah Inggris pada peristiwa Perang Sepehi 1812, tepatnya 18-20 Juni 1812," jelas Yaser.
Selain itu, Sultan HB II juga merupakan tokoh yang dikenal tidak mau kompromi dengan kekuasaan kolonial, tidak mau untuk diturunkan oleh kekuasaan kolonial. Karena dalam sejarahnya pernah diturunkan secara paksa oleh pemerintah kolonial dan diasingkan ke Penang.
Kemudian setelah diasingkan ke Penang, diasingkan lagi ke Ambon. Dan selama itu pula, beliau memegang sikap yang teguh untuk tidak berkompromi dengan kolonial.
"Dengan demikian, beliau dapat dikatakan sebagai seseorang yang memiliki jiwa nasionalis dan juga memiliki jiwa patriotik," kata Yaser.
Sementara Gus Alwi Fuadi. S.Ag. (Gus Alwi) pengasuh Majlis Amburika, yang juga seorang ulama dari Yogyakarta menekankan bahwa Sri Sultan HB II adalah representasi nyata dari jiwa nasionalis dan patriotik yang tidak tergoyahkan oleh tekanan kolonial.
Lebih lanjut, Gus Alwi menekankan bahwa pengakuan pahlawan nasional bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menjaga "roh" bangsa. Menurutnya, sejarah adalah jati diri yang mencegah sebuah bangsa kehilangan arah di tengah arus zaman.
"Bahwa sejarah itu adalah roh dari sebuah bangsa. Sehingga, jika sejarah itu hilang, berarti bangsa itu akan terhapus dari peradaban atau hilang terutama karakter bagsanya. Maka terkait dengan sejarah bangsa tentunya perlu juga apa namanya semakin banyak dikenalkan juga ke dalam pendidikan-pendidikan kita wabilkhusus untuk menjadikan bangsa kita tidak kehilangan jati diri," jelasnya.
Ia pun berharap, ke depannya jejak sejarah Sri Sultan HB II dapat diabadikan lebih luas, baik melalui pendirian museum maupun pembukuan karya-karya dan pemikiran beliau agar bisa dipelajari secara merata oleh generasi mendatang.
Menanggapi semakin menguatnya arus dukungan gelar pahlawan ini, Gus Alwi mengutip pepatah Arab: "La ya’riful fadhla lidzawil fadhli illadzawuhu", yang berarti tidak ada yang mengetahui keutamaan seseorang kecuali mereka yang juga mengerti tentang keutamaan.
"Keteladanan inilah yang tidak bisa dibeli oleh siapapun. Karakter beliau yang menolak Belanda dan Inggris adalah bukti kuat bahwa beliau pantas diingat, dikenang, dan didoakan. Ada jejak sejarah yang tidak mungkin bisa dihapus," tegasnya.
Gus Alwi berharap agar nilai-nilai kepahlawanan Sri Sultan HB II dapat menginspirasi lahirnya pemimpin-pemimpin masa depan di Indonesia. Pemimpin yang tangguh, tahan uji, dan benar-benar mencintai rakyatnya di atas kepentingan pribadi.
"Kita butuh pemimpin yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Dengan begitu, dia akan mampu mencintai bangsa, rakyat, dan tanah airnya secara utuh. Kepentingan rakyat menjadi nomor satu. Itulah esensi dari kepahlawanan yang kita harapkan bisa muncul dari refleksi sejarah Sri Sultan HB II ini," kata Gus Alwi.
Sementara itu, Ketua Yayasan Vassati Socaning Lokika, yang juga Perwakilan Trah Sultan HB II, Fajar Bagoes Poetranto menyampaikan apresiasi atas dukungan pengusulan Gelar Pahlawan Nasional Sultan HB II. Pihaknya juga terus mendesak dibentuknya TP2GD Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
"Kita telah progres, terutama untuk segera dibentuk Tim TP2GD Kabupaten Wonosobo dengan melengkapi naskah akademik, serta dokumen dokumen sejarah lainnya. Kemarin kita bertemu Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat untuk membuka forum pengusulan gelar pahlawan nasional Sri Sultan Hamengku Buwono II. Pertemuan itu dihadiri akademisi/sejarahwan, Pemdes Pagerejo, perwakilan Trah Sultan HB II, perwakilan Dinas Sosial, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dan perwakilan Keraton Yogyakarta," jelas Fajar Baoges Poetranto
Sultan Hamengku Buwono II dikenal sebagai salah satu penguasa Yogyakarta yang paling gigih dan vokal dalam menentang intervensi asing, terutama saat masa transisi kekuasaan dari Belanda ke Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles.
"Keberanian beliau memuncak pada peristiwa Geger Sepehi tahun 1812, di mana beliau memilih untuk mempertahankan kedaulatan keraton meski harus menghadapi gempuran artileri berat pasukan Inggris. Sikap pantang menyerah inilah yang menjadi landasan utama kuatnya usulan gelar pahlawan nasional, sebagai bentuk penghormatan atas konsistensi beliau dalam menjaga marwah bangsa dari penjajahan," tutur Fajar Baoges Poetranto.
Pewarta : SP
Editor:
Bambang Sutopo Hadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
