
Menkes: edukasi digencarkan lawan obesitas untuk atasi ketimpangan wilayah

Jakarta (ANTARA) - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, tetapi merupakan faktor risiko berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, sehingga pihaknya menggencarkan edukasi guna mengubah perilaku masyarakat.
“Kalau kita ingin hidup lebih sehat dan lebih panjang umur, maka kita harus mulai menjaga pola makan, menjaga berat badan, dan rutin berolahraga. Kesehatan itu bukan hanya urusan rumah sakit atau program pemerintah, tapi harus menjadi gerakan hidup sehat yang dimiliki setiap individu,” ujar Budi di Jakarta, Jumat.
Data Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 menunjukkan bahwa sekitar 10 juta orang atau 31 persen dari 34,1 juta orang dewasa mengalami obesitas sentral, dan 94,97 persen dari 21 juta orang kurang aktivitas fisik.
Dia menjelaskan bahwa kejadian obesitas dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yaitu biologis, lingkungan, dan genetik yang membutuhkan solusi komprehensif. Pendekatan pemerintah dalam penanganan obesitas difokuskan pada edukasi dan perubahan perilaku masyarakat melalui penyediaan informasi yang lebih mudah dipahami.
Baca juga: Kurang tidur dapat tingkatkan risiko obesitas
Salah satunya, katanya, melalui implementasi pelabelan nutrisi pada makanan dan minuman agar masyarakat dapat membuat pilihan konsumsi yang lebih sehat.
“Kita ingin masyarakat lebih sadar terhadap apa yang mereka konsumsi. Informasi gizi harus dibuat sederhana dan mudah dimengerti sehingga masyarakat bisa memilih makanan dan minuman yang lebih sehat,” katanya.
Selain pola makan sehat, Menkes juga menyoroti pentingnya aktivitas fisik sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari. Menurutnya, olahraga perlu didorong menjadi budaya dan tren positif di masyarakat.
“Kita harus menjadikan olahraga sebagai movement. Mau lari, jalan kaki, badminton, padel apa saja yang penting bergerak dan dilakukan rutin,” kata Menkes.
Sementara itu, Duta Besar Denmark untuk Indonesia Sten Frimodt Nielsen menyampaikan bahwa obesitas merupakan tantangan kesehatan global yang memerlukan kolaborasi lintas sektor serta pendekatan yang inklusif dan tanpa stigma.
“Obesitas merupakan kondisi kesehatan yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari gaya hidup, lingkungan, pendidikan, hingga akses terhadap layanan kesehatan. Penanganan obesitas membutuhkan upaya bersama dari pemerintah, tenaga kesehatan, industri, dan masyarakat,” ujar Duta Besar Denmark Sten Frimodt.
Baca juga: Ahli ingatkan obesitas picu kompleksitas pengendalian kadar LDL
Dia juga menekankan pentingnya pencegahan dan langkah sederhana sehari-hari untuk menciptakan dampak kesehatan jangka panjang.
“Perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari serta penerapan pola hidup yang lebih sehat dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan dalam jangka panjang,” katanya.
Kerja sama Indonesia dan Denmark di bidang kesehatan juga terus diperkuat melalui kolaborasi antara Kementerian Kesehatan dan Novo Nordisk sebagai bagian dari kemitraan bilateral kedua negara.
Kehadiran Duta Besar Denmark dalam kegiatan ini menegaskan komitmen bersama dalam mendukung upaya pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular, khususnya obesitas dan diabetes, melalui edukasi, inovasi, serta sinergi lintas sektor untuk mendorong gaya hidup sehat di masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Kesehatan berharap kesadaran masyarakat terhadap bahaya obesitas semakin meningkat serta mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten. Kegiatan juga dirangkaikan dengan edukasi kesehatan, konsultasi, serta pemeriksaan kesehatan bagi peserta.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Menkes: edukasi digencarkan lawan obesitas tingkatkan kualitas hidup
Pewarta : Mecca Yumna Ning Prisie
Editor:
Nur Istibsaroh
COPYRIGHT © ANTARA 2026
