Logo Header Antaranews Jogja

DPR mendorong percepatan jalur terpisah KRL dan KA antarkota

Senin, 11 Mei 2026 19:34 WIB
Image Print
Ilustrasi - Pengguna KRL Commuter Line yang menggunakan gerbong khusus perempuan turun dari kereta. ANTARA/Rina Nur Anggraini/am.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi V DPR Andi Iwan Darmawan Aras mendorong percepatan pemisahan jalur operasional kereta rel listrik (KRL) dan kereta api antarkota menyusul kecelakaan kereta api di kawasan Bekasi Timur, Jawa Barat.

“Pemisahan jalur operasional harus menjadi prioritas. Penyelesaian proyek Double-Double Track (DDT) Jakarta–Cikarang tidak hanya meningkatkan kapasitas, tetapi juga keselamatan,” kata Andi di Jakarta, Senin.

Menurut dia, kecelakaan di Bekasi Timur menunjukkan adanya tekanan sistemik pada jalur rel di wilayah perkotaan sehingga membutuhkan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan perkeretaapian.

Ia juga mendorong evaluasi meliputi sistem keselamatan mulai dari perencanaan, pemantauan, hingga respons dalam kondisi gangguan berantai.

Menurut dia, keselamatan perkeretaapian tidak cukup hanya bergantung pada disiplin operasional harian, tetapi juga harus dilihat sebagai kemampuan sistem dalam mendeteksi, mengisolasi, dan memutus risiko sejak awal gangguan terjadi.

Selain mendorong pemisahan jalur operasional, ia juga menyoroti persoalan perlintasan sebidang yang dinilai masih menjadi titik rawan kecelakaan.

“Perlintasan sebidang harus segera dibenahi. Persoalan seperti ini masih sering terjadi dan berpotensi menimbulkan kecelakaan,” ucapnya.

Sementara, pengamat transportasi, Darmaningtyas menilai keberadaan DDT sangat penting untuk menjamin keselamatan perjalanan kereta api, terutama di jalur padat.

Dengan adanya pemisahan jalur antara kereta lokal dan jarak jauh, perjalanan kereta dapat berlangsung lebih aman dan minim gangguan.

“Diharapkan kalau proyek Double-Double track itu selesai tidak ada gangguan lagi,” ucapnya.

Selain pemisahan jalur melalui proyek DDT, Darmaningtyas menambahkan perlunya penerapan teknologi sensor berbasis GPS sebagai langkah penting untuk mencegah kecelakaan kereta api.

"Gunakan teknologi Intelligent Transportation System (ITS) berbasis GPS untuk meningkatkan keselamatan operasional kereta," katanya.

Ia menjelaskan, teknologi tersebut memungkinkan masinis mengetahui kondisi jalur di depan, termasuk adanya kereta lain atau gangguan.

“Kalau semua sarana PT KAI itu dilengkapi dengan GPS yang bisa mendeteksi satu atau dua kilo ke depan itu ada gangguan apa, itu bisa meminimalisir kecelakaan,” ujarnya.

Pengembangan teknologi keselamatan berbasis GPS menjadi salah satu opsi yang dapat dikaji untuk memperkuat sistem monitoring perjalanan kereta.

Dengan kombinasi penyelesaian DDT dan penerapan teknologi berbasis GPS, Ia meyakini keselamatan dan keandalan perjalanan kereta api dapat semakin meningkat.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: DPR dorong percepatan jalur terpisah KRL dan KA antarkota



Pewarta :
Editor: Victorianus Sat Pranyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2026